CERPEN KAMU YANG PERTAMA!



            Alunan instrumen klasik yang sering terdengar saat masa penjajahan Belanda memang tidak asing terdengar di rumah kakekku, yang tidak lain adalah seorang pensiunan tentara yang pernah ikut mengangkat senjata, memukul mundur penjajah di tanah air tercinta ini. Aku tinggal di sebuah kota penuh budaya, kota para sejarawan, kota para seniman, dan masih banyak lagi sebutan untuk kota ini, tapi aku lebih suka menyebutnya kota penuh mimpi. Inilah Jogjakarta.
            Empat tahun yang lalu aku meninggalkan statusku dari seorang anak kota metropolitan menjadi seorang anak kota gudeg. Kedua orang tuaku mengirimku ke Jogja untuk menemani kakekku yang waktu itu baru saja di tinggal oleh almarhumah nenekku, aku yang waktu itu baru saja lulus SD merasa aku seperti di asingkan oleh kedua orang tuaku. Tapi sekarang, aku sangat menikmatinya.
            “Adam, sudah pagi kamu gak sekolah.?” Aku mengucek kedua mataku yang masih saja tidak mau terbuka walau sinar matahari yang menembus kaca jendela menerpa wajahku.
            “eh,, kakek mau kemana udah rapi banget.?” Aku memandang kakekku yang memang tidak biasanya dia memakai baju hem dan sweater.
            “loh ya kakek mau ke toko batik, mau ngontrol. Udah kamu cepetan mandi udah siang.” Kakek langsung pergi dari kamarku membiarkanku yang masih bingung dengan tingkahnya. Aku beranjak dari tempat tidurku dan menuju kamar mandi setelah melihat jam di samping ranjangku yang menunjukkan waktu hampir pukul tujuh.
            Tepat pukul tujuh aku sudah berada di luar kelas bebarengan dengan bel tanda masuk berbunyi. Aku mulai melangkahkan kaki memasuki ruang kelas, tapi terhenti setelah aku melihat sosok orang yang tidak asing bagiku berdiri di samping kelas. Aku memperhatikan wajahnya yang manis dengan hidung mancung dan lesung pipit di kedua pipinya.
            “hayoo loh, bengong mulu, pasti lagi liatin anak baru itu ya.?” Farid yang dari tadi ternyata sudah berdiri di belakangku membuyarkan lamunanku.
            “ngagetin aja sih, enggak, aku kayak gak asing gitu sama wajahnya.”
            “ya iyalah dia kan Airin cewek yang kamu suka dari kelas 1 smp tuh.” Aku melihat Farid seakan gak percaya apa yang barusan di katakannya. Aku langsung beranjak memasuki kelas setelah kulihat guru mata pelajaran pertamaku datang.
            Saat pelajaran aku sama sekali tidak konsen, aku terus meraba-raba bayangan masa laluku tentang Airin. Sosok gadis manis yang membuatku bertahan menyukainya hingga masa smp berakhir. Tiga tahun memendam rasa yang membuatku hampir mati rasa, karena aku tidak bisa menyukai orang lain selain dia. Dan sekarang dia kembali, aku merasa kenangan masa lalu perlahan-lahan mulai muncul, dan rasa yang sudah setahun aku kubur mulai hadir di sela-sela senyuman manis dan kerudung putih yang pagi ini dia kenakan.
             Hari ini pelajaran berakhir, aku sengaja keluar kelas terakhir agar aku lebih leluasa untuk keluar gerbang sekolah. Aku merapikan seluruh buku yang berserakan di mejaku dan beranjak pergi keluar kelas.
            “hai adam.” Aku menghentikan langkahku, aku melihat sekeliling tapi tidak ada orang. Lalu aku berbalik dan melihat Airin baru saja keluar kelas.
            “Airin.?” Hanya kata itu yang keluar dari mulutku
            “tadi pagi aku ngliat kamu, tapi pas aku mau manggil kamu, kamu udah masuk kelas. Kamu kaget ya aku jadi tambah cantik.?” Dia tertawa seakan memamerkan wajah manis yang berhiaskan lesung pipit di kedua pipinya.
            “tetep aja pdnya gak berubah.” aku tertawa sambil menyenggol bahunya yang sedikit lebih pendek dari aku. Hari ini aku benar-benar menghabiskan waktu bersama Airin, rumah dia yang memang tetangga komplek dengan rumah kakekku membuatnya sepanjang jalan pulang bercerita banyak tentang apa yang dia alami di Surabaya hingga dia harus kembali ke Jogja.
            Semakin lama semakin akrab aku dengan Airin, kita sering pulang pergi sekolah bersama. Bahkan dia sering main kerumahku untuk sekedar memintaku mengajarinya mengerjakan tugas, hingga menemaninya jalan-jalan bersama keliling komplek. Setiap kali dia tersenyum seakan aku tersihir oleh lesung pipit di kedua pipinya itu. Setiap hari aku melihatnya tertawa, melamun, berjalan, dan aku selalu mengamatinya. Kerudungnya membuatnya semakin terlihat cantik dan anggun.
            Sebulan sudah berlalu aku merasa hari-hariku menjadi sangat berwarna sejak Airin ada disini. Aku lebih sering menghabiskan waktu bersamanya. Semua ini membuat rasa itu muncul kembali. Aku terlalu takut untuk menyatakan rasa ini dan aku terlalu malu untuk bilang bahwa dia yang pertama.
            “kamu payah Dam” Farid memukul pundakku. “kalau suka mah dinyatain, jangan di diemin mulu.” Lanjutnya lagi.
            “kamu tau kan Rid dia tuh pertama buat aku.” Aku berusaha membela diri
            “justru itu, kamu mau dia yang udah deket sama kamu terus pacaran sama orang lain gara-gara kamu gak berani nyatain ke dia.? Seenggaknya kamu taulah gimana isi hatinya dia.” Aku hanya diam memandang fotoku dan Airin sambil merenungkan perkataan Farid.
            Aku melamun di teras rumah. Aku masih memikirkan perkataan Farid tadi, dia benar seharusnya aku berani ambil resiko, hampir empat tahun aku tersiksa dengan perasaanku sendiri tanpa berani mengungkapkannya. Setidaknya aku harus mengetahui isi hatinya, bagaimanapun jawabannya aku akan lega jika aku mengatakannya pada Airin.
            Malam berganti pagi, sekuat tenaga aku mengumpulkan keberanian untuk bertemu dengan Airin. Keputusanku sudah bulat, aku akan menyatakannya pagi ini dan aku berharap Tuhan memberiku keberuntungan. Aku melihat Airin berjalan menghampiriku dengan senyuman manis andalannya. Pagi ini dia nampak sangat cantik, membuat tubuhku bergetar dan dadaku berdebar kencang.
            “kamu sakit.? Kok pagi-pagi udah keringetan.? Wajah kamu pucet lagi.” Dia memegang keningku, dan aku melihat sangat jelas wajah yang menggambarkan kecemasan.
            “Rin , aku mau ngomong sesuatu, dengerin ya.?” Dia tertawa dan hanya mengangguk. Aku mulai mencoba untuk menenangkan diri, aku mencoba membuat diriku sesantai mungkin. Aku mengatur irama pernafasanku yang mulai membuatku sesak. Dan aku mulai bicara.
            “Rin, kamu yang pertama buat aku suka berjalan, kamu yang pertama buat aku suka nunggu, kamu yang pertama buat aku ngerti rasa sayang, kamu yang pertama buat jantungku berdebar kencang, kamu yang pertama buat aku tertawa lepas, kamu yang pertama buat aku suka keliling komplek dan kamu yang pertama buat aku nyimpen rasa ini hampir empat tahun, apa itu cukup buat ngebuktiin kalau kamu yang pertama buat aku.? Dan aku suka sama kamu.” Dia memandang kearahku seakan gak percaya dengan semua hal yang aku ungkapin, lalu dia tersenyum.
            “Dam, kamu tau.? kamu yang pertama buat aku nyaman, kamu yang pertama buat aku bahagia, kamu yang pertama buat aku tersenyum, kamu yang pertama menggandeng tanganku, kamu yang pertama bantuin aku ngerjain tugas, dan kamu alasan pertama aku balik ke Jogja. Apa itu cukup buat ngebuktiin kalau aku juga sayang sama kamu.?”
Aku tersenyum lega, entah bagaimana aku mengekspresikan kebahagiaanku. Aku tidak pernah berfikir ending kisah ini akan berakhir manis seperti senyuman Airin. Tapi aku tau apapun yang kita perjuangkan akan berakhir dengan sesuatu yang mnyenangkan. Dan bukankah Tuhan bersama orang-orang yang sabar.?

Unknown

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Instagram