Orang
bilang masa-masa SMA adalah masa yang paling indah dalam riwayat hidup seorang
manusia, dimana masa ini baju putih abu-abu menjadi kebanggaan, dimana nonton
konser sama nonoton bioskop adalah rutinitas malam minggu dan masih banyak lagi.
Masih segar diingatan cuplikan lagu yang sering terdengar “masa-masa SMA masa
yang paling indah, tak mungkin aku lupa walau sampai tua.” Yaa jelas banget
sih, dan itu memang fakta banget buat aku.
Hari ini malas memang bener-benar kuat
menyerang tubuhku, bukan karena tidak ada yang di kerjakan, tapi karena sangat
banyak tugas hingga akhirnya aku bingung harus mulai darimana. “Drrrtt,,
drrttt,, drrttt,,” aku terbebas dari rasa malasku setelah getaran handphone
yang berada di saku baju putih abu-abuku bergetar. Aku melihat di display
handphoneku tidak ada nama yang aku kenal, hanya deretan nomor yang terpampang.
Aku langsung mengangkat telfon itu.
“halo,
siapa ya.?”
“cepetan
ke belakang kelas kamu,, aku udah nunggu dari tadi.”
Terdengar suara cowok yang nggak asing
buat aku, lalu telfon itu terputus. Refleks aku langsung berlari ke belakang
kelas, aku celingukan tapi tetap saja aku tidak menemukan siapa-siapa di
belakang kelas. Aku berniat kembali ke kelas tapi aku nggak sengaja menabrak
seseorang, dia Lian teman sekelasku.
“sorry,
aku nggak sengaja.”
“kamu
nyari aku.?” dia menggandeng tanganku, membuatku mengurungkan niat kembali ke
kelas.
“jadi
kamu yang telfon aku tadi.? Kurang kerjaan banget sih.?” Aku kesal dan berniat
meninggalkan dia.
“mau
nggak jadi pacarku.?” Aku menghentikan langkahku, aku memandang ke arahnya.
Sosok wajah yang terkesan cool itu, aku benar-benar merasa semua ini cuma
mimpi.
“cewek
itu perlu di nyatain, nggak sembunyi-sembunyi.” Aku lalu pergi meninggalkan dia
yang masih terdiam.
Setelah
kejadian itu, aku sedikit canggung jika berhadapan dengannya. Aku yang biasanya
benci, kesal, bahkan sering marah-marah ke dia karena gayanya yang memang
dingin, sekarang jadi sering ngeliatin dia, bahkan aku jadi sering salah
tingkah kalau harus satu kelompok sama dia. Memang sih nomor absenku dan dia
berurutan jadi sering banget kita berada di satu kelompok. Seperti hari ini
waktu pelajaran biologi.
“woy,,
Faya, dari tadi bengong mulu, absen berapa kamu.?” Aku tersadar setelah ergi
menepuk pundakku.
“ahh,,
apa.?” Aku gugup karena Lian melihat ke arahku. “absen 13”
“absen
13 kan Lian.?” Sontak seisi kelas menyoraki aku
“aduhh,,
maksudku absen 12” aku gugup dan melihat ke arahnya, dan lagi-lagi dia hanya
tersenyum, senyum yang membuatku merasa seperti terbang hingga lupa caranya
untuk turun.
Dua
minggu berlalu setelah kejadian itu, aku masih menunggu ungkapan darinya lagi.
Tapi hingga hari ini dia tetap tidak menyatakan perasaannya lagi, aku mulai
cemas aku takut dia sudah berpaling. Terlebih 3 hari ini dia tidak masuk kelas
dan tanpa keterangan, dan sejak 3 hari ini tidak ada kabar tentang dia,
handphonenya mulai susah untuk di hubungi. Aku mencoba mencari informasi dari
teman-teman dekatnya tapi aku tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, mereka
hanya bilang dia sedang liburan, dan jawaban itu membuatku sangat sedih.
Liburan seperti apa yang membuatnya susah untuk di hubungi.
Tiga
minggu sudah setelah kejadian itu. Hari ini aku berlari dengan cepat agar
sampai di ruang kelas, setelah tadi pagi aku melihat Lian memarkirkan motornya
di tempat parkir sekolah membuatku hari ini semangat. Aku berhenti di depan
kelas membenahi seragam dan rambutku lalu perlahan memasuki kelas. Aku melihat
dia duduk bersama teman-temannya dan dia menyapaku.
“pagi
Faya..” dia tersenyum melihat kearahku yang baru masuk kelas.
“pa..pagi..
juga Lian.” Aku gugup dan langsung duduk di tempat dudukku.
Seperti
terkena petir airmataku hampir tidak bisa aku tahan lagi. Aku melihat Lian yang
berdiri di depan kelas dengan senyum mengambang tanpa rasa bersalah. Aku
melihat wajahnya yang dingin dan membuat air mataku meleleh, aku mengusapnya
dengan kedua tanganku. Setelah dia berpamitan di depan kelas dia lalu keluar
kelas membawa tas coklat miliknya. Aku masih tidak percaya dia akan pindah dan
meninggalkanku tanpa kepastian.
Genap
sebulan dia pergi, aku sering mengiriminya pesan, bahkan hampir setiap hari aku
menelfonnya, tapi tetap tidak ada jawaban dari dia, sampai hari ini. Aku
mencoba untuk berhenti menghubunginya, aku mencoba untuk tidak memikirkannya,
dan aku mencoba untuk melupakannya.
“Fay,
nanti ikut kita ya, ada yang mau ketemu sama kamu.”
Aku melihat Ergi, Dea, dan Erno yang duduk di
depan mejaku “mau kemana sih.? Kalian masih mau ngejodohin aku sama anak kelas sebelah
itu.?” Tanyaku jengkel
“enggak, udah deh, tenang aja.”
Teeet...
teeett... teeettt... bel tanda pulang berbunyi, semuanya berhamburan keluar
kelas. Hari ini aku berjanji pada Ergi, Dea dan Erno untuk menemui seseorang
yang aku tidak tau siapa, mereka bilang dia sedang sakit, dan dia ingin bertemu
aku, mereka juga bilang waktunya tidak akan lama lagi perkiraan dokter hanya
ada sekitar beberapa jam lagi. Melihat mereka bertiga yang akhir-akhir ini
murung sejak Lian pergi, membuat aku merasa semakin tidak bersemangat pergi ke
sekolah.
Mereka
membawaku ke sebuah rumah sakit yang lumayan besar. Mereka berhenti di sebuah
kamar aku melihat nomor kamar itu 346. Aku memasuki kamar itu, aku melihat
orang tua Lian yang sedang menangis, dari situ aku sadar melihat sosok orang
yang aku kenal terbaring dengan lemah di atas ranjang itu.
“hai
Fay, udah lama ya nggak ketemu.?” Suara parau Lian membuat air mataku meleleh,
aku mencoba mendekatinya.
“kamu
bohong.? Kamu nggak pindah.?” aku menangis di samping Lian yang memegang
tanganku.
“heii,,
sssstttt, jangan nangis kamu nggak malu sama orang tua aku.? Sama Ergi, Dea,
Erno.?” Dia tersenyum, lalu melanjutkan bicara “Mungkin aku nggak bisa bertahan
lebih lama lagi, tapi 60 menit cukup kan buat nunjukin ke semua orang kalau aku
sayang kamu.? Kamu mau jadi pacar aku.?” Airmataku semakin deras mengalir, aku
tidak pernah menyangka kalau caranya mengungkapkan akan jadi seperti ini. Aku
mendengar semua orang di ruangan ini menangis, kecuali Lian di tetap tersenyum
dengan wajahnya yang dingin.
“kenapa
kamu lama banget ngungkapinnya.? Aku capek nunggu kamu.” Aku berhenti sejenak
untuk bernafas, airmataku yang semakin deras membuatku sesak. “aku mau, aku mau
kamu bahagia. Jadi kebahagiaan seperti apa yang kamu inginkan.?”
“60
menit terakhir bersamamu sudah cukup buat aku, 60 menit yang udah kita lewatin
itu buat aku bahagia.” Dia mulai melepaskan genggamannya dan dia mulai
tertidur, dia tidur untuk mengenang 60 menit terakhirnya bersamaku, dia tidur
dengan sangat nyenyak. Hingga tidak ada orang yang bisa membangunkannya, dia
tidur untuk selamanya bersama kenangan 60 menitnya yang membuatnya selalu
bahagia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar