CERPEN 60 MENIT


            Orang bilang masa-masa SMA adalah masa yang paling indah dalam riwayat hidup seorang manusia, dimana masa ini baju putih abu-abu menjadi kebanggaan, dimana nonton konser sama nonoton bioskop adalah rutinitas malam minggu dan masih banyak lagi. Masih segar diingatan cuplikan lagu yang sering terdengar “masa-masa SMA masa yang paling indah, tak mungkin aku lupa walau sampai tua.” Yaa jelas banget sih, dan itu memang fakta banget buat aku.
             Hari ini malas memang bener-benar kuat menyerang tubuhku, bukan karena tidak ada yang di kerjakan, tapi karena sangat banyak tugas hingga akhirnya aku bingung harus mulai darimana. “Drrrtt,, drrttt,, drrttt,,” aku terbebas dari rasa malasku setelah getaran handphone yang berada di saku baju putih abu-abuku bergetar. Aku melihat di display handphoneku tidak ada nama yang aku kenal, hanya deretan nomor yang terpampang. Aku langsung mengangkat telfon itu.
            “halo, siapa ya.?”
            “cepetan ke belakang kelas kamu,, aku udah nunggu dari tadi.”
Terdengar suara cowok yang nggak asing buat aku, lalu telfon itu terputus. Refleks aku langsung berlari ke belakang kelas, aku celingukan tapi tetap saja aku tidak menemukan siapa-siapa di belakang kelas. Aku berniat kembali ke kelas tapi aku nggak sengaja menabrak seseorang, dia Lian teman sekelasku.
            “sorry, aku nggak sengaja.”
            “kamu nyari aku.?” dia menggandeng tanganku, membuatku mengurungkan niat kembali ke kelas.
            “jadi kamu yang telfon aku tadi.? Kurang kerjaan banget sih.?” Aku kesal dan berniat meninggalkan dia.
            “mau nggak jadi pacarku.?” Aku menghentikan langkahku, aku memandang ke arahnya. Sosok wajah yang terkesan cool itu, aku benar-benar merasa semua ini cuma mimpi.
            “cewek itu perlu di nyatain, nggak sembunyi-sembunyi.” Aku lalu pergi meninggalkan dia yang masih terdiam.
            Setelah kejadian itu, aku sedikit canggung jika berhadapan dengannya. Aku yang biasanya benci, kesal, bahkan sering marah-marah ke dia karena gayanya yang memang dingin, sekarang jadi sering ngeliatin dia, bahkan aku jadi sering salah tingkah kalau harus satu kelompok sama dia. Memang sih nomor absenku dan dia berurutan jadi sering banget kita berada di satu kelompok. Seperti hari ini waktu pelajaran biologi.
            “woy,, Faya, dari tadi bengong mulu, absen berapa kamu.?” Aku tersadar setelah ergi menepuk pundakku.
            “ahh,, apa.?” Aku gugup karena Lian melihat ke arahku. “absen 13”
            “absen 13 kan Lian.?” Sontak seisi kelas menyoraki aku
            “aduhh,, maksudku absen 12” aku gugup dan melihat ke arahnya, dan lagi-lagi dia hanya tersenyum, senyum yang membuatku merasa seperti terbang hingga lupa caranya untuk turun.
Dua minggu berlalu setelah kejadian itu, aku masih menunggu ungkapan darinya lagi. Tapi hingga hari ini dia tetap tidak menyatakan perasaannya lagi, aku mulai cemas aku takut dia sudah berpaling. Terlebih 3 hari ini dia tidak masuk kelas dan tanpa keterangan, dan sejak 3 hari ini tidak ada kabar tentang dia, handphonenya mulai susah untuk di hubungi. Aku mencoba mencari informasi dari teman-teman dekatnya tapi aku tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, mereka hanya bilang dia sedang liburan, dan jawaban itu membuatku sangat sedih. Liburan seperti apa yang membuatnya susah untuk di hubungi.
Tiga minggu sudah setelah kejadian itu. Hari ini aku berlari dengan cepat agar sampai di ruang kelas, setelah tadi pagi aku melihat Lian memarkirkan motornya di tempat parkir sekolah membuatku hari ini semangat. Aku berhenti di depan kelas membenahi seragam dan rambutku lalu perlahan memasuki kelas. Aku melihat dia duduk bersama teman-temannya dan dia menyapaku.
“pagi Faya..” dia tersenyum melihat kearahku yang baru masuk kelas.
“pa..pagi.. juga Lian.” Aku gugup dan langsung duduk di tempat dudukku.
            Seperti terkena petir airmataku hampir tidak bisa aku tahan lagi. Aku melihat Lian yang berdiri di depan kelas dengan senyum mengambang tanpa rasa bersalah. Aku melihat wajahnya yang dingin dan membuat air mataku meleleh, aku mengusapnya dengan kedua tanganku. Setelah dia berpamitan di depan kelas dia lalu keluar kelas membawa tas coklat miliknya. Aku masih tidak percaya dia akan pindah dan meninggalkanku tanpa kepastian.
            Genap sebulan dia pergi, aku sering mengiriminya pesan, bahkan hampir setiap hari aku menelfonnya, tapi tetap tidak ada jawaban dari dia, sampai hari ini. Aku mencoba untuk berhenti menghubunginya, aku mencoba untuk tidak memikirkannya, dan aku mencoba untuk melupakannya.
“Fay, nanti ikut kita ya, ada yang mau ketemu sama kamu.”
Aku melihat Ergi, Dea, dan Erno yang duduk di depan mejaku “mau kemana sih.? Kalian masih mau ngejodohin aku sama anak kelas sebelah itu.?” Tanyaku jengkel
“enggak, udah deh, tenang aja.”
Teeet... teeett... teeettt... bel tanda pulang berbunyi, semuanya berhamburan keluar kelas. Hari ini aku berjanji pada Ergi, Dea dan Erno untuk menemui seseorang yang aku tidak tau siapa, mereka bilang dia sedang sakit, dan dia ingin bertemu aku, mereka juga bilang waktunya tidak akan lama lagi perkiraan dokter hanya ada sekitar beberapa jam lagi. Melihat mereka bertiga yang akhir-akhir ini murung sejak Lian pergi, membuat aku merasa semakin tidak bersemangat pergi ke sekolah.
Mereka membawaku ke sebuah rumah sakit yang lumayan besar. Mereka berhenti di sebuah kamar aku melihat nomor kamar itu 346. Aku memasuki kamar itu, aku melihat orang tua Lian yang sedang menangis, dari situ aku sadar melihat sosok orang yang aku kenal terbaring dengan lemah di atas ranjang itu.
“hai Fay, udah lama ya nggak ketemu.?” Suara parau Lian membuat air mataku meleleh, aku mencoba mendekatinya.
“kamu bohong.? Kamu nggak pindah.?” aku menangis di samping Lian yang memegang tanganku.
“heii,, sssstttt, jangan nangis kamu nggak malu sama orang tua aku.? Sama Ergi, Dea, Erno.?” Dia tersenyum, lalu melanjutkan bicara “Mungkin aku nggak bisa bertahan lebih lama lagi, tapi 60 menit cukup kan buat nunjukin ke semua orang kalau aku sayang kamu.? Kamu mau jadi pacar aku.?” Airmataku semakin deras mengalir, aku tidak pernah menyangka kalau caranya mengungkapkan akan jadi seperti ini. Aku mendengar semua orang di ruangan ini menangis, kecuali Lian di tetap tersenyum dengan wajahnya yang dingin.
“kenapa kamu lama banget ngungkapinnya.? Aku capek nunggu kamu.” Aku berhenti sejenak untuk bernafas, airmataku yang semakin deras membuatku sesak. “aku mau, aku mau kamu bahagia. Jadi kebahagiaan seperti apa yang kamu inginkan.?”
“60 menit terakhir bersamamu sudah cukup buat aku, 60 menit yang udah kita lewatin itu buat aku bahagia.” Dia mulai melepaskan genggamannya dan dia mulai tertidur, dia tidur untuk mengenang 60 menit terakhirnya bersamaku, dia tidur dengan sangat nyenyak. Hingga tidak ada orang yang bisa membangunkannya, dia tidur untuk selamanya bersama kenangan 60 menitnya yang membuatnya selalu bahagia.

Unknown

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Instagram