CERPEN AWAL PERJALANAN




A

ku, Ahmad Rahim Al-rehab biasanya aku dipanggil Ahmad. Aku terlahir dari orang yang hidup sederhana di dekat pegunungan daerah Bogor Jawa Barat. Ayahku bekerja sebagai orang yang mengelola tambak ikan sebuah perusahaan besar dan Ibuku seorang penjahit. Aku 5 bersaudara, yang pertama dan kedua anak perempuan, lalu aku dan adik lelakiku dan yang terakhir adik perempuanku yang baru berusia 7 bulan.

Suatu ketika aku sedang melihat bintang-bintang di luar rumah sambil duduk di atas bangku yang terbuat dari bambu, tak lama kemudian ayahku menghampiriku.
Maad..!!” ayah memanggilku
“Eh, Ayah! sini Yah!” jawabku.
“Ngapain kamu duduk sendiri di sini malam-malam?”
“Nggak, Yah! Ahmad cuma lagi memikirkan sesuatu!”
“Apa yang lagi kamu fikirin, Nak?”
“Yah, Ahmad ingin sekolah di pesantrennya Kyai Hasyim!”
“Ada apa?”  
“Kemarin Ahmad abis ketemu sama anak kyai, terus dia ngajakin aku jalan-jalan keliling pondok yang kosong karena santrinya pulang kampung! Terus istrinya kyai manggil kita buat makan siang bareng!”
“Ya sudah! Nanti kita daftar kesana ya!”
“Benar ya Yah? Tapi gimana nanti ibu dan adik-adik?”
“Tenang saja! Yang penting kamu sukses kayak kakak-kakakmu itu, ya!”
“Makasih ya Yah!”
“Sama-sama sayang!!”
Lalu kami masuk kedalam rumah untuk tidur, karena memang jam tanganku telah menunjukkan pukul 20.00 WIB.
dc
Satu tahun berlalu, kini aku sudah resmi menjadi santri Pesantren Al-Kahfi milik Kyai Hasyim Abdillah. Lalu suatu ketika aku terpilih menjadi anak yang ikut olimpiade matematika se-JABODETABEK. Pada suatu malam, saat aku dan santriwan-santriwati yang mengikuti olimpiade belajar bersama dengan guru pembimbing kami. Lalu ketika ada waktu luang pun kami sejenak bercanda dan menenangkan pikiran kami untuk menghilangkan rasa jenuh terhadap soal-soal angka yang telah kami kerjakan.
“Eh..udah dong! Kaifa hadza??”  
Isbir yaa Ahmad! Dalam belajar, otak pun juga perlu refreshing!” ucap Wulan yang sangat ahli dalam hal matematika
“Ah..!! yaudahlah! Ayo lanjutin!” ucapku dan lalu kami semua melanjutkan belajar kami.

dc
Alhamdulillah, Pesantren kami mendapat peringkat ketiga se-JABODETABEK. Ya, walaupun belum menjadi yang pertama, tapi itu semua tidak menjadi masalah karena olimpiade ini jarang ditawarkan kepada pesantren kami.
“Alhamdulillah..anak-anakku!! Pesantren kita dapat menempati peringkat ke-3 olimpiade matematika, dan Bapak ucapkan selamat untuk kita dan orang-orang yang telah mengharumkan nama Pesantren kita, Ahmad Rahim Al-rehab, Muhammad Kamil Sulaiman Mustofa, Siti Azizah Nurlathifah, Sayyidah Wulandari, Bahrain Al-Masyir, dan Adinda Fathiyah Karimah!” ucap senang Kyai Hasyim Abdillah yang disertakan tepuk tangan seluruh Santri, Ustadz dan Ustdzah di Aula Utama saat pengajian rutin malam Jum’at selesai.
Selesai pengajian, kami semua kembali ke tempat masing-masing. Saat aku beranjak berdiri dari karpet hijau yang biasa digunakan pada saat acara Pesantren, dari kejauhan Pak Salim asisten terdekat pak kyai memanggil aku.
“Tong, bisa ikut bapak?”  
“Oh, iya Pak! Mau kemana kira-kira ya Pak?” 
“Entong dipanggil sama pak kyai!”  
“Oh, iya Pak! Terima kasih!”  
Setelah itu aku langsung menghampiri pak kyai
“Assalamu’alaikum! Ada yang bisa saya bantu pak Kyai?”  
“Wa’alaikumsalam! Tidak, bapak hanya ingin sedikit bertanya padamu!” 
            “Ada apa Pak?”  
“Apakah kamu bisa menjadi seorang reporter Pesantren?”  
“Maksud Bapak?”  
“Begini Nak! Ada pemilihan penerbit majalah Madrasah terbaik dan terunik, dan dari anak-anak yang handal dalam masalah jurnalistik ini rata-rata sudah lulus, namun teman-temanmu bilang kamu itu seseorang yang bisa melakukan hal ini!”  
“Ya Allah, Pak Kyai! Ini benar-benar nikmat dari Allah! Tapi Ahmad masih sedikit ragu untuk menerima dan menjalankan tugas ini!”  
“Tidak apa-apa, Nak! Masih banyak waktu untuk mempelajarinya! Nanti malam ba’da Isya kamu keruang khusus di rumah bapak ya! Nanti kita dan anak-anak OSANKAHF yang akan rapat bersama, ok!” 
“Ok, pak kyai!”
dc
Kompetisi membuat majalah Madrasah yang terbaik dan terunik itu dilangsungkan selama 2 bulan. Aku mendapat kesempatan untuk mengatur sekaligus membuatnya untuk Pesantrenku yang dibantu oleh pengurus-pengurus OSANKAHF, sebuah organisasi di Pesantren Al-Kahfi.
“Ahmad, apa ada yang harus ditambahkan di bagian cover ini?” tanya salah seorang pengurus yang juga kakak kelasku, namanya kak Ghufron
“Oh, tidak perlu ada penambahan disini! Tapi mungkin bisa agak sedikit di rapikan kembali bentuknya!” jawabku.

Karena terlalu sibuknya aku, aku menelantarkan pelajaranku yang akhirnya nilai bahasa inggrisku terendah dikelas.  
“Nilai apa ini, Ahmad Rahim Al-rehab?” tanya guru Bahasa Inggrisku.
“Maafkan saya Ustad!”  
“Apa yang membuatmu menjadi tidak konsentrasi dalam menjalani Oral Exam ini?”  
“Maaf, Ustad! Kemarin malam saya mengerjakan majalah hingga larut malam, dan saya hampir saja lupa dengan Oral Exam ini!”
“Kalo kamu mau remedial nanti pasti hasil nilai Oral Exammu tambah rendah hanya karena majalah itu, saya akan bilang pada Kyai Hasyim untuk menggantimu dalam tugas itu! Mengertiiii!!” jawab marah Ustad Yasin yang kecewa melihat hasil Oral Examku.
“Aduh!! Apa yang harus aku lakukan! Majalahku sedikit lagi akan selesai, tapi waktunya remedial tinggal besok! Besok majalah ini harus aku serahkan ke pak Kiai! Aduh, bagaimana ini?” resahku di kamarku.
Ahmad!” panggil Kak Ghufron.
“Ya, kak? Ada apa?” 
“Tadi, kamu di panggil sama Kak Syifa!”
“Baik kak! Aku akan segera ke sana!”
Lalu beberapa saat setelah dipanggil, aku menuju tempat tujuan yaitu di kantor OSANKAHF. Sebelum aku mengetuk pintu, aku mendengar ada beberapa orang yang sedang membicarakan aku.
“Eh, kalau menurut saya, dari pada nilai ancur, mendingan juga serahin aja tugas majalah ini ke OSANKAHF, kan jadi gak ngerepotin dia!” kata Kak Mahmud
“Eh, layajus ghibah! Kyai Hasyim sendiri yang memilih Ahmad sebagai peserta dari kompetisi ini tapi dibantu oleh bantuan pengurus OSANKAHF!” jawab Kak Ghufron
“Tapi, Fron! Menurutku Mahmud benar! Ahmad masih terlalu muda dan dia kan juga masih anak baru untuk mengikuti banyak kegiatan! Apalagi kalau membuatnya tidak berkonsentrasi dalam pelajarannya!” pendapat Kak Kamil.
“Hey, antum! Seharusnya kita ini mendukung dan membantu dia! Laisa kadzalik?” ucap Kak Syifa menengah.
“BTW, aina Ahmad?” tanya Kak Syifa.
Laa arif! Tadi sudah ku panggil.”jawab Kak Ghufron.

Aku yang telah berada di depan pintu kantor OSANKAHF, tidak jadi untuk mengetuk pintu apalagi masuk ke dalam kantor, maka pergilah aku menuju kamarku di lantai 2 gedung Madinah. “kakak-kakak tadi mungkin benar! Tugas ini lebih baik aku serahkan pada mereka, dari pada nilaiku yang harus aku pertaruhkan! Ayah sudah mengamanatkanku untuk belajar yang benar di sini! Mungkin lebih baik, ba’da ‘isya aku ke kantor saja dan menyerahkan seluruh tugas dan sketsaku pada yang lebih ahli!”
dc
Teeeetttt....teeeetttttt...... Bel tanda belajar telah berbunyi. Saatnya kami untuk belajar bersama di ruang belajar utama. Namun, sebelum menuju ruang belajar, aku bergegas pergi ke kantor OSANKAHF sebelum ditutup.
“Kakak!! Tunggu!” aku terhenti tiba-tiba.
“Ahmad! Kenapa kamu datangnya baru sekarang?” tanya Kak Ghufron selayaknya ketua pengurus majalah OSANKAHF.
“Maaf, Kak! Setelah aku berfikir lebih jauh tentang amanat dari Kyai Hasyim 1 setengah bulan yang lalu, aku sekarang memutuskan untuk berhenti menjalani tugas ini tapi aku tetap bertanggung jawab atas amanatnya!” jelasku.
“Maksud kamu apa?”
“Aku sadar, aku masih belum bisa membagi waktuku dengan benar, maka dari itu aku masih butuh banyak belajar dalam menjalani kegiatan di sini! Dan aku tidak mau hanya karena kegiatan aku harus mempertaruhkan nilai-nilaiku yang sudah mulai turun secara drastis semenjak mendapat banyak permintaan! Dan ini hasil majalah yang aku buat dan sketsa sisanya lagi karena belum sempat dibuat dalam bentuk yang rapi! Tapi untuk selanjutnya akan aku serahkan seluruhnya ke OSANKAHF!” jelasku panjang lebar.
“Apakah kamu mendengar...”  
“Oh, tidak! Semua ini adalah keinginanku! Dan aku mohon jangan katakan masalah ini selain aku sendiri yang mengatakan pada pak kyai! Bisakan kakak bantu aku?”
“Ya, pasti! Akan aku usahakan semampuku, eh maksudku kami!” 
“Hmm..! ya sudah, kalau begitu, Assalammu’alaikum!” 
“Wa’alaikumsalam!”

2 jam berlalu, waktu belajar malam telah selesai.

“Huh.. akhirnya aku belajar dengan tenang tanpa adanya beban fikiran! Semoga saja hasil remedial oral examku besok lebih baik.” Ucapku. Lalu tiba-tiba datang Kak Ghufron menghampiriku.
“Ahmad, nanti ba’da witir datang ke kantor OSANKAHF untuk mengambil berkas-berkas yang ada di map warna hijau, lalu berikan map itu ke Kak Syifa ok! Bilang padanya aku gak bisa ngasih langsung soalnya ada beberapa bagian majalah yang harus aku perbaiki! Assalammu’alaikum!” ucap terburu-buru Kak Ghufron.
“Wa’alaikumsalam!” jawab lemasku.
“Bagaimana ini?? Apa aku harus melaksanakan perintahnya?? Duh lebih baik malam ini juga aku harus bertemu dengan pak kyai!” ucapku dengan kebingungan.

Ba’da witir tepat pukul 22.00 Aku datang ke rumah pak kyai, Alhamdulillah beliau belum tidur. 
“Maaf menganggu malam-malam pak kyai! Tapi ada yang harus Ahmad bicarakan dengan pak kiai, ini masalah majalah!

Beberapa menit kemudian..

“Jadi bagaimana pak kyai?”
“Ya, saya tidak bisa memaksakan kehendak saya sama kamu! Mungkin kalau di tahun ini kamu diibaratkan masih beradaptasi dengan kegiatannya, masih ada waktu di tahun depan! Belajarlah dengan benar ya nak!”
“Hmmmm…terimakasih pak kyai!!” aku berjabat tangan dengan pak kyai sambil menangis terharu.
“Kalau begitu Ahmad kembali ke kamar dulu Pak Yai! Assalammu’alaikum!” “Wa’alaikumsalam!”

Sepanjang koridor yang sepi, aku terus merasa terharu dan lega akhirnya beban ini tidak lagi menggerogoti fikiranku. Lalu tiba-tiba saja aku teringat dengan pesan Kak Ghufron.
“Oh ya, tadi kan Kak Ghufron minta tolong sama aku, sudahlah anggap saja beramal!” maka pergilah aku menuju kantor OSANKAHF.  Sebelum mengetuk pintu aku melihat pintu kantor terbuka dan seperti ada orang yang menggeledah laci-laci meja. 
“Ada siapa di dalam ya?” tanyaku dalam hati.

 Lalu aku mengambil sapu sebagai alat berjaga-jaga kalau dia bukan warga pesantren.
  
“Siapa itu??” 
Aahhh!!!!” lalu secara spontan aku memukul orang itu       
“Aduh!! Kenapa kamu pukul aku??”ucap Kak Ghufron
“Ah..Kak Ghufron?? Kak Syifa?? Ma..maafkan aku kak!!! Aku kira maling!!”

Lalu duduklah kami untuk menenangkan suasana.  

“Jadi, kamu sudah bicara sama pak kyai?” Tanya Kak Ghufron.
“Sudah Kak, dan nanti akan diadakan rapat sama pak kiai untuk seluruh pengurus OSANKAHF dalam pembicaraan majalah ini!”  
“Apa kamu gak mau mencoba lagi, Mad?” Tanya Kak Syifa.
“Gak Kak! Keputusan Ahmad sudah bulat, dari pada menimbulkan omongan-omongan yang gak baik, lebih baik Ahmad serahkan sama yang ahlinya saja!” “Pasti kamu mendengar percakapan pengurus malam itu ya?” Tanya penasaran kak Ghufron. 
“Hmm,, yah percakapan malam itu ada benar juga kok, justru itu yang membuatku jadi bisa berfikir lebih jauh dari pada ini! Tapi kok orangnya gak ngomong langsung ke aku aja ya? sebenernya sakit tau diomongin dari belakang terus kitanya denger lagi!” ucapku
“Soal itu kita bener-bener minta maaf ya!” ucap Kak Syifa.
“Gak, gak apa-apa, semua orang berhak mengeluarkan pendapatnya masing-masing, tapi ya kalau menurut aku ya kakak-kakak ini kan lebih tua dari aku, pastilah kalian yang lebih tau mana yang benar dan yang salah, dan membimbing yang lebih muda bukan menekan!”

Semua terdiam tak berkutik apalagi Kak Ghufron selayaknya seorang ketua OSANKAHF, apabila anggotanya jelek maka dialah yang akan kena omongan jelek itu.
“Sepertinya ini sudah larut malam, lebih baik pertemuan ini selesai sampai sini dulu! Oh ya Kak, aku titip surat pengunduran diri ini ya untuk seluruh pengurus yang sudah baik-baik banget mau bantu aku! Surat ini juga sudah ada sama pak kyai! Aku cuma mau masalah ini gak usah diumbar-umbar sampai ke santri-santri atau guru-guru luar lainnya! Terima kasih kak! Assalammu’alaikum!”  
“Wa’alaikumsalam!” heran Kak Ghufron.
“Syif, aku jadi gak enak sendiri sama dia! Kata-katanya tadi nyindir omongan kita kemarin!” Tanya Kak Ghufron.
“Udahlah, lagipula ente kan gak ikut omongin dia, besok juga paling biasa lagi! dah ah, aku balik dulu ya! Assalammu’alaikum!” jawab Kak Syifa.
“Wa’alaikumsalam!” jawab Kak Ghufron

dc
Hari demi hari berlalu, kini majalah OSANKAHF yang ditunggu-tunggu telah selesai diterbikan. Ternyata 2 bulan adalah waktu yang sangat sebentar untuk menyelesaikan satu majalah unik itu. Nilai pelajaran yang kuraih setelah keluar dari tugas majalah itu kini membaik.
“Nah…ini dia Ahmad yang dulu!! Hasil oral examnya bagus!! Hehe..bapak seneng kalau beginikan!!” ucap bahagia ustad Yasin kepadaku.
“Alhamdulillah kalau begitu!! Terima kasih Ustad!” jawabku.

dc
Udara sepanjang koridor gedung sekolah terasa sejuk sekali.Angin sepoy-sepoy terasa menghembus jiwaku. Rasanya, ingin sekali terbang keawan sana. Lalu tiba-tiba saja terfikirkan olehku untuk melukis pemandangan hari itu ditengah taman diantara teman-teman seperjuanganku yang bersekolah di pesantren ini juga. Disaat aku sedang asyik melukis, tiba-tiba datang Kak Mahmud salah seorang pengurus OSANKAHF yang gayanya rada sombong.
Ane dengar ente mengundurkan diri ya dari tugas majalah yang diamanatkan pak kiai??”  
“Ya, memang ada masalah apa ya ka??”jawabku heran.
“Gak ane  kesini cuma mau bilang, bagus deh kalau begitu, berarti ente nyadar dong jadi anak baru!!” ucap ketus Kak Mahmud.
“Maksud kakak apa ya?” emosiku meradang.
“Duh, dimana-mana yang namanya anak baru itu gak usah banyak mapangin nama di deket pak kyai! Semua santriwan disini juga udah tau kali kalau ente itu anak baru yang paling deket sama pak kyai!”  
“Maaf Kak, kalau kedatangan kakak kesini cuma mau ngejelek-jelekin ane silahkan tapi jangan bawa-bawa nama pak kyai!”  
“Eh…ente jangan sok tau banget ya!!!” lalu tiba-tiba muncul salah satu santriwan membantuku
“Eh..kalau sama anak baru gak usah gitu dong! ane tau ente pengurus, tapi tunjukin etika ente dong!! Mana wibawa ente sebagai pengurus??” ucap Kak Fatih kakak kelas MAK.
“Yeh..bangkotan aja ikut campur!! Eh,,,ini itu urusan ane sama nih anak baru! Biar dia tau aturan disini!” selak Kak Mahmud.
“Tunggu…emang tadi ente ngapain kakak kelas ente ini?” ucap Kak Fatih 
“Ahmad gak ngapa-ngapain kok kak! Tadi aku cuma kesel karena Kak Mahmud bawa-bawa nama pak kyai waktu lagi ngejelek-jelekin aku!!”  
“Alaaah..!! banyak alesan ente! Dasar manja!”  ucap kak Mahmud
“Udah-udah! Cukup! kalian berdua ba’da zuhur datang ke kamar ane di gedung Cordoba lantai satu lorong utama! paham!”
“Paham kak!!” jawabku..
“Dah..bubar semuanya!!” ucap kak Fatih

dc
Setelah aku melaksanakan Sholat Dhuhur berjamaah, tanpa habis pikir aku langsung menuju ke gedung Cordoba dimana gedung itu adalah kamarnya kak Fatih.
“Assalammu’alaikum!” salamku.
“Wa’alaikumsalam! Tafadhol ya Akhi!” jawab salah seorang teman kamarnya kak Fatih. “Ijlisi Ahmad!” perintah kak Fatih.
Oke, disini kita akan bahas masalah tadi! Maaf harus membawa kalian jauh dari asrama! Perkenalkan Ahmad, inilah wilayah asrama Madrasah Aliyah di pesantren ini walau satu pesantren tapi MTs dan MA itu wilayahnya jauh berbeda dalam keorganisasiannya pun juga berbeda tapi organisasi OSANKAHF MA bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada OSANKAHF MTs dalam arti kata OSANKAHF MTs dibawah naungan OSANKAHF MA dan pihak berwenang lainnya. Oke..karena salah satu anak buah ane ini sudah membuat perbuatan tidak baik yang seharusnya tidak patut untuk diucapkan, dia kena hukuman foto bersih pondok Ini plang dan alat-alatnya, silahkan dilaksanakan!” ucap bijak kak Fatih.
” Kak, tapikan peraturan itu sudah dihilangkan karena membuat malu seluruh santriwan dan santriwati dihadapan ustad dan ustadzah yang bertugas apalagi para tamu yang melihat foto itu! karena masalahnya Cuma etika saja!” marah kak Mahmud.
“Tidak!! Rapat peraturan ini sudah di ralat ulang dan telah disahkan oleh pak kyai Hasyim sendiri, bu nyai pun juga menyetujuinya karena kalau tidak dengan cara ini semakin lama pengurus itu akan semakin tidak punya akhlak! Ingatlah janji pengurusmu Mud!! Silahkan!!”

Lalu dibawalah kak Mahmud kelapangan MA santriwan lalu difoto dengan plang yang bertuliskan “saya berjanji akan menjaga akhlak saya terhadap siapapun! Akhlaklah yang mencerminkan karakter pesantrenku!” sambil menyapu lapangan.

“Dan ente Mad, ente  kena hukuman masuk kelas pembelajaran intensif selama satu minggu diwilayah MA dan MTs oleh ustadz PAS (Pembelajaran Akhlak Santri) sendiri! Mengerti!”
“Baik kak!” jawab beratku.
dc
1 hari kemudian, aku masuk kelas pembelajaran intensif selama 1 minggu kedepan dan mendapatkan banyak pelajaran yang sangat berharga dari Ustadz Maulana selaku pengajar PAS.
Kamu tahu, akhlak itu bukan pelajaran yang berat, semua itu ada pada hatimu!” ucap ustadz Maulana selaku guru PAS.
“HATI??? Apa maksud Ustadz??” heranku. 
Kamu tahu kenapa disini ada pelajaran etika/akhlak santri?”  
Setahu saya pelajaran akhak santri itu untuk membimbing para santri dalam berakhlak dengan siapapun!”
Ya... kamu betul!! Dan karena itu pelajaran aqidah dan akhlak di sekolah berbeda dengan pelajaran aqidah akhlak di pondok! Kamu paham?”  
“Saya paham sekarang Ustadz!”  

Baru belajar sehari, aku sudah banyak belajar mengapa kakak-kakak dan saudara-saudaraku yang alumni pondok itu sangatah tidak suka dengan yang namanya ketidaksopanan seperti tidak membantu orang tua pada saat perpulangan, bicara kasar kepada kakak ataupun tidak sopan kepada yang lebih tua. Ternyata hidup sebagai anak santri itu tidak seburuk yang aku pikirkan, walaupun banyak rintangan yang menghadang tapi semua itu pasti ada buahnya nanti, KITA LIHAT SAJA NANTI!

dc
1 tahun berlalu, tidak terasa sudah satu tahun usiaku di pondok ini, sebentar lagi kenaikan kelas, kakak-kakak kelas tiga MTs dan MA yang telah berjuang dengan beribu-ribu soal walaupun di waktu yang berbeda. Dan Anak-anak lainnya termasuk aku juga akan menghadapi soal-soal ujian akhir sekolah yang akan membuat kepala pening dan tenaga terkuras selama 10 hari kedepan. Semua itu tidak akan menjadi masalah yang penting hasil yang aku dapatkan akan seimbang dengan usaha dan perjuanganku selama ini, dan saling MEMUASKAN.

Unknown

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Instagram