[IMPIAN] NIKAH YUK!

     
Haha terima kasih kepada Ustadz Ahmad WAS, Lc selaku guru Fikih dan telah memberikan tugas ini :) sehingga aku dapat menulis impian ini. wkwk 
   
   Soal nikah? Itu adalah hal yang menurut kaum remaja adalah sesuatu yang didamba-dambakan sejak mereka beranjak dewasa. Tetapi setiap remaja pasti juga mempunyai impian pernikahan yang berbeda-beda serta calon pendamping yang akan menjadi pendamping hidup mereka pasti juga berbeda. Begitulah yang terjadi pada diriku, seorang remaja yang terlahir dari seorang keluarga di desa yang sederhana, namaku adalah Muhammad Shalih Al-Ghazali, suatu saat tepatnya pada 07 Agustus 2023 aku akan melangsungkan akad pernikahan dengan seorang gadis yang berkelahiran di tanah sunda yakni Putri Fatimah Azzahra, dia adalah lulusan Universitas Indonesia jurusan Sastra Inggris yang lulus pada tahun 2023.
            Kami mulai saling mengenal yakni saat kita duduk di bangku sekolah menengah pertama (MTs), saat itu aku hanyalah mempunyai rasa suka dan kagum terhadap sosok perempuan yang biasa disapa dengan Zahra tidak lebih dari itu. Dan sejak kami duduk di bangku sekolah menengah pertama dia adalah adik kelasku yang saat itu banyak para pria termasuk temanku yang bernama Heru Ardiansyah memiliki rasa cinta dan sayang kepadanya. Mungkin karena kecantikan, keelokan parasnya, cerdas, rajin ibadah, sholihah. Bahkan temanku dulu sudah pernah menyatakan cintanya kepada Zahra, namun karena Zahra adalah wanita yang sangat menjaga harga dirinya termasuk muru’ah dan kesucian jiwa maupun hatinya, sehingga Zahra menolak cinta semua lelaki yang menyatakan cinta kepadanya.
            Dan saat aku telah lulus dari sekolah menengah pertama, aku memutuskan untuk melanjutkan sekolah menengah atas di daerah Jawa Timur, sejak itulah aku sudah mulai kehilangan kabar darinya sama sekali, ya karena aku saat SMA juga tinggal di Pondok Pesantren sehingga aku tidak pernah memegang HP apalagi untuk membuka jejaring sosial, seperti Facebook, Twitter, dsb. Saat aku SMA aku memang tidak pernah membuka hati untuk siapapun dan  aku sangat menjaga pandangan terhadap perempuan, karena menurutku jodoh adalah takdir dan ketentuan Allah SWT yang telah ditentukan saat kita masih berada dalam kandungan ibunda tercinta. Aku hanya bisa berbuat yang terbaik, meningkatkan amal perbuatan terutama dalam hal ibadah. Karena wanita yang baik hanya untuk lelaki yang baik.
            Setelah aku lulus SMA di daerah Jawa Timur aku memutuskan untuk kuliah di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta jurusan Komunikasi Penyiaran Islam. Dan setelah 2 semester aku keluar dari asrama universitas tersebut agar meringankan beban biaya hidup di Ibu kota, dan aku memutuskan untuk tinggal di sebuah Kost khusus putra yang terkenal murah di daerah perbatasan Depok-Bogor tepatnya di Jakarta Selatan yang satu bulannya hanya 250rb ya walaupun hanya sekamar kecil yang penting aku bisa meringkan beban biaya hidupku yang masih mengandalkan kedua orang tuaku.
            Saat aku sedang sibuk kuliah semester 4, tidak ku sangka ternyata aku bertemu Zahra adik kelasku dulu di suatu tempat makan dekat kampus Universitas Indonesia, ya karena kampus UI dengan kamar kos ku hanya 200 meter. Awalnya aku tidaklah mengenalinya, mungkin dikarenakan aku bertemu terakhir dengan Zahra disaat Haflah Takhrij dulu. Dan ternyata dia menyapaku terlebih dahulu, dan aku sempat memikirkan dan membayangkan siapa ini?. Beberapa detik kemudian Zahra mengingatkan ku bahwa dia adalah adek kelasku dulu, dan aku langsung menatapnya dengan serius melihat wajahnya yang semakin dewasa semakin cantik karena kerudung panjangnya yang menutupi auratnya. Setelah itu kami berbincang-bincang, bertanya-tanya tentang diri kita masing-masing, ternyata dia kuliah di UI jurusan Sastra Inggris semester 2 Tak lama kemudian dia memberikanku Nomor Handphone nya di sebuah kartu nama yang ternyata dia adalah penerjemah novel di salah satu perusahan penerjamah terkenal.
            Tanpa disadari kami semakin akrab layaknya pasangan kekasih, setiap hari kami saling menyemangati agar bisa lulus sesuai target dan bisa membahagiakan kedua orang tua, tetapi aku saat iu aku tidak menyatakan perasaanku kepada Zahra. Ya mungkin akibat aku terlalu sibuk pada kuliahku dan pekerjaan sampingan ku sebagai penyiar radio dan penyiar berita di salah satu channel swasta di Jakarta, dan aku juga sempat berfikir bahwa Zahra masih seperti dulu yang menutup hatinya terhadap semua lelaki yang menyatakan perasaannya, sehingga aku ragu untuk menyatakan perasaanku, tapi itu semua tak jadi masalah yang penting aku dan Zahra masih bisa berkomunikasi dengan baik saling memperbaiki Ukhuwah Islamiyah.
            Saat aku telah menyelesaikan skripsiku, hanya tinggal sidang skripsi aku mendapat SMS Zahra yang saat itu Zahra masih kuliah semester 7 bahwasanya dia akan dijodohkan dengan seorang anak teman baik bapak Sulaiman (Bapak Zahra), aku langsung syok mendengar kabar itu, aku hanya bisa pasrah apabila Zahra memang bukan jodohku. Dan Zahra selama 1 setengah tahun dia juga hanya pasrah dan berusaha ikhlas terhadap pilihan orang tuanya. Karena menurutnya piliha orang tuanya adalah yang terbaik baginya.
            Setelah aku resmi menjadi sarjana, hubunganku dengan Zahra semakin memburuk. Nomor Zahra jarang-jarang aktif, dan saat aktif SMS ku maupun telfonku tidak pernah dijawab. Dan aku rela mengunjungi kampusnya, ternayata dia sibuk untuk menyelesaikan skripsinya. Ya aku hanya bisa positif thinking. Mungkin saat ini dia hanya ingin fokus sama skripsinya. Dan ternyata dia dapat menyelesaikan skripsi tersebut dengan kilat tidak sesuai dengan perkiraan.
             Aku mendapat telfon dari Ayahku, bahwasanya aku telah keterima menjadi penyiar berita dan sekaligus reporter di Stasiun Televisi Indosiar. Dan ayahku menuruhku untuk segera pulang ke Lumajang, sebagai tanah kelahiranku dulu. Dan aku pulang ke kota kelahiranku dengan travel 2 hari setelah ayahku menelfon ku, karena barang bawaan ku terlalu banyak. Saat aku sampai disana, rumahku telah banyak orang. Dan tanpa disadari ternyata itu adalah keluarga Zahra dan disamping ibu Zahra ada Zahra yang sedang menunduk dengan mengenakan gamis natural dan kerudung yang panjang sehingga menutupi leher dan pundaknya. Dan aku hanya bisa bertanya-tanya, Ada apa sebenarnya? Kok Zahra dan sekeluarga datang kesini?
“Assalamu’alaikum Wr.Wb” Ucapku
“Waalaikumsalam Wr.wb” jawab semua orang yang ada di dalam rumah.
“Loh? Zahra kok bisa disini? Ada apa yak ok bisa sekeluarga datang kesini?”
“Perkenalkan nak, ini adalah calon istrimu, dia adalah anak dari teman dekat ayah” tutur ayahku
“Jadi aku akan dijodohkan dengan Zahra yah? Tanyaku
“Iyaa nak, udah sana taruh barang-barangmu di kamar”  Jawab ibuku
            Hatiku tidak sudah bercampur aduk rasa senang dan gembira, dan aku langsung mengirimkan 1 kalimat “Kau adalah Jodohku” melalui HP ku kepada seseorang yang ada di kontak HP ku telah ku rubah dari Adek Zahra menjadi Calon Istriku. Dan Zahra membalasnya “Rencana Allah lebih indah dari yang kita fikirkan”
            Tak lama kemudian, setelah aku menaruh barang-barang yang ku bawa dari Jakarta aku langsung keluar kamar dan terdengar bahwasanya aku dan Zahra akan melangsungkan akad nikah 1 bulan lagi tepatnya tanggal 7 Agustus di Masjid Agung Surabaya, dan resepsi bernikahan akan dilaksanakan di gedung serbaguna yang terletak di dekat Masjid Agung Surabaya.  Dan ibuku dan ibundanya Zahra telah memilihkan dan mendatangkan desainer untuk mendesaign pakain pernikahanku yang betemakan Putih Suci.
            Dan Zahra yang memilih undangan pernikahan kita di suatu percetakan. Dia juga ternyata memilih undangan yang berwarna dasar putih dan tulisan berwarna merah. Dan kami membuat daftar undangan yang akan kami undang. Setelah satu persatu undangan selesai dikemas dan dinamai sesuai dengan daftar undangan yang telah kami susun. Dan undangan telah siap untuk disebarkan.
            Setelah undangan semua telah tersebar selama 1 minggu, Zahra langsung meninggalkan kota kelahiranku menuju ke Tangerang, kota lahirnya. Disana dia harus menyiapkan segala macam yang berhubungan dengannya, mulai dari make-up, baju ganti, kue, dsb. Saat semua telah dipersiapkan dengan sempurna, Zahra berangkat ke kotaku sendiri dengan membawa barang pribadinya dengan Pesawat Terbang yang terbang dari Bandara Soekarmo Hatta Cengkareng dan turun di Bandara Juanda Surabaya. Setelah  1 jam 5 menit Zahra telah menelfonku bahwa dia telah tiba di Surabaya, dan aku masih terkena macet menuju tol juanda, dan aku mengatakan kepada Zahra “Tunggu Aku ya Sayang, aku masih terkena macet. Perbanyaklah berdzikir, agar tidak ada hal yang buruk menimpamu. Aku sayang kamu.” Sekitar 30 menit aku tiba dengan mobil yang ku beli sendiri dari hasil kerja keras ku sebagai penyiar berita dan juga reporter, aku langsung menelfon Zahra bahwa aku telah sampai di bandara. Tak lama kemudian dia juga datang menemui ku dengan 2 koper dan 1 tas kesayangannya di tangannya. Dan kami langsung meneruskan pejalanan kami ke lumajang.
            Akad nikahku pun tiba, semua yang telah ku rancang dengan Zahra berjalan dengan lancar. Zahra akan berangkat ke Masjid Agung Surabaya dari hotel yang telah dipesannya terlebih dahulu karena dia harus dipercantik dengan make-up, sedangkan aku berangkat satu jam setelahnya, dan kami akan memulai akad pernikahan kami pada pukul 09:00 WIB, yang mana aku telah berada di depan penghulu. Dan tak lama kemudian keluarlah sosok Zahra dari pintu masjid selatan dengan pakaian yang serba putih dengan digandeng  sang ibundanya. Kini Zahra menuju ke tempat ku duduk, lalu dipasangkanlah kerudung putih panjang diatas kepalaku yang telah ditutupi oleh kopyahku yang berwarna putih dan diatas kepala Zahra yang juga telah dipenuhi dengan pernak-pernik diatas kerudung yang berwarna putih pula.
            Setelah Zahra duduk disampingku, aku mengeluarkan kalimat kepadanya “Doain semoga lancar ya!” kemudian Zahra hanya mengangguk dengan memberikan senyuman kepadaku. Akad nikah pun dimulai, lafal ijab dan qabul mulai dengan menggunakan Bahasa ara terucap dari mulut penghulu, setelah penghulu selesai aku segera menjawabnya dengan Bahasa arab pula.
الْمَهْر الْمَذْکُوْرَ و رضيت بِهِ و له ولي التَّوْفِیْقُّ  قبلت نِکَاحَهَاوتزويجها عَلَي
            Ijab dan qabul pun lancar, setelah itu kami menandatangani buku nikah dan mengambil foto ku bersama Zahra, dan saat ini aku resmi menjadi imamnya Zahra. Dan ternyata tiba-tiba berdiri teman-temanku MAKBI MAN 3 Malang serta ustadz dan ustadzah yang datang secara berombongan, dan tak lama kemudian teman-teman dari Zahra serta teman-temanku MI hingga MTs.
            Setelah acara akad nikah selesai kami berdua menuju penginapan miliknya pamannya Zahra untuk istirahat dan persiapan acara resepsi besok. Acara resepsi dimulai pada pukul 08:00 WIB yang menjadi MC yakni Iffah temanku SMA dulu yang ditemeni dengan suaminya, kemudian ayat suci Al-Qur’an dilantunkan oleh Sharvina dengan suaranya yang merdu nan indah, yang telah ku undang dan pinta pertolongannya. Dan acara selanjutnya sambutan yang disampaikan oleh Ustadz Miftahul Huda, yang dulunya adalah Kepala Sekolahku saat aku MTs. Dan selanjutnya adalah acara inti yakni resepsi, sungkeman dan foto bersama.
            Keluargaku dan keluarga Zahra foto bersama, setelah itu keluarga Zahra turun dari panggung pernikahan untuk menunggu keluargaku selesai foto bersamaku dan Zahra, dilanjutkan dengan keluarga Zahra yang telah menanti di bawah panggung pernikahan. Setelah itu aku di salami sahabatku MTs. Salah satunya adalah Lubab, dia udah gandengan sama teman sekelasku Rayhatul, disusul deibelakangnya teman-temanku dari MAN 3 Malang, terutama yang banyak datang adalah teman-temanku sekelas. Ternyata 5 temanku sudah ada yang mendahului ku. Sudah ada yang punya keturunan malahan, yakni Nabila Adeninia. Dia datang kesini denga suaminya dan bayinya yang baru 6 bulan.
            Semua telah berakhir, aku berniat menuju ke Zahra yang sedang berbincang-bincang dengan temannya dan mengajaknya untuk menunaikan shalat dhuhur. Setelah itu kami pergi ke Masjid Agung Surabaya yang tak jauh dari sini. Saat perjalanan kami sempat mengobrol.
“Selamat Zahra, kau sekarang sudah resmi jadi Istriku, semoga rumah tangga kita langgeng”
“Iyaa mas, aku kini akan menjadi imamku, aku juga berdoa seperti yang kamu inginkan mas, dan doakan aku bisa menjadi istri yang taat pada Allah SWT dan kamu J
“Iya insyaAllah dek, kamu bisa kok”
“Iyaa makasih ya mas, pokoknya kekuranganmu juga termasuk kekurangaku juga, begitupula kamu, dan kita harus saling menjaga tersebut”

            Shalat dhuhur selesai kamipun langsung menuju ke penginapan yang mana disana telah dipasang hiasan di kamar. Dan sebelum kami tiba di penginapan, kami sengaja berhenti di Taman Bungkul untuk mengabadikan gambar setelah pernikahan. Dan sekarang kami selalu melaksanakan shalat jama’ah dan selalu berdoa agar rumah tangga kami menjadi sakinah, mawaddah, dan rahmah serta segera diberi keturunan yang sholeh maupun sholehah. Amiiin J

Unknown

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Instagram