Soal nikah? Itu adalah hal yang menurut kaum
remaja adalah sesuatu yang didamba-dambakan sejak mereka beranjak dewasa.
Tetapi setiap remaja pasti juga mempunyai impian pernikahan yang berbeda-beda
serta calon pendamping yang akan menjadi pendamping hidup mereka pasti juga
berbeda. Begitulah yang terjadi pada diriku, seorang remaja yang terlahir dari
seorang keluarga di desa yang sederhana, namaku adalah Muhammad Shalih Al-Ghazali,
suatu saat tepatnya pada 07 Agustus 2023 aku akan melangsungkan akad pernikahan
dengan seorang gadis yang berkelahiran di tanah sunda yakni Putri Fatimah
Azzahra, dia adalah lulusan Universitas Indonesia jurusan Sastra Inggris yang
lulus pada tahun 2023.
Kami
mulai saling mengenal yakni saat kita duduk di bangku sekolah menengah pertama
(MTs), saat itu aku hanyalah mempunyai rasa suka dan kagum terhadap sosok
perempuan yang biasa disapa dengan Zahra tidak lebih dari itu. Dan sejak kami
duduk di bangku sekolah menengah pertama dia adalah adik kelasku yang saat itu
banyak para pria termasuk temanku yang bernama Heru Ardiansyah memiliki rasa
cinta dan sayang kepadanya. Mungkin karena kecantikan, keelokan parasnya,
cerdas, rajin ibadah, sholihah. Bahkan temanku dulu sudah pernah menyatakan
cintanya kepada Zahra, namun karena Zahra adalah wanita yang sangat menjaga
harga dirinya termasuk muru’ah dan kesucian jiwa maupun hatinya, sehingga Zahra
menolak cinta semua lelaki yang menyatakan cinta kepadanya.
Dan saat
aku telah lulus dari sekolah menengah pertama, aku memutuskan untuk melanjutkan
sekolah menengah atas di daerah Jawa Timur, sejak itulah aku sudah mulai
kehilangan kabar darinya sama sekali, ya karena aku saat SMA juga tinggal di
Pondok Pesantren sehingga aku tidak pernah memegang HP apalagi untuk membuka
jejaring sosial, seperti Facebook, Twitter, dsb. Saat aku SMA aku memang tidak
pernah membuka hati untuk siapapun dan
aku sangat menjaga pandangan terhadap perempuan, karena menurutku jodoh
adalah takdir dan ketentuan Allah SWT yang telah ditentukan saat kita masih
berada dalam kandungan ibunda tercinta. Aku hanya bisa berbuat yang terbaik,
meningkatkan amal perbuatan terutama dalam hal ibadah. Karena wanita yang baik
hanya untuk lelaki yang baik.
Setelah
aku lulus SMA di daerah Jawa Timur aku memutuskan untuk kuliah di Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta jurusan Komunikasi Penyiaran Islam.
Dan setelah 2 semester aku keluar dari asrama universitas tersebut agar
meringankan beban biaya hidup di Ibu kota, dan aku memutuskan untuk tinggal di sebuah
Kost khusus putra yang terkenal murah di daerah perbatasan Depok-Bogor tepatnya
di Jakarta Selatan yang satu bulannya hanya 250rb ya walaupun hanya sekamar
kecil yang penting aku bisa meringkan beban biaya hidupku yang masih
mengandalkan kedua orang tuaku.
Saat aku
sedang sibuk kuliah semester 4, tidak ku sangka ternyata aku bertemu Zahra adik
kelasku dulu di suatu tempat makan dekat kampus Universitas Indonesia, ya karena
kampus UI dengan kamar kos ku hanya 200 meter. Awalnya aku tidaklah
mengenalinya, mungkin dikarenakan aku bertemu terakhir dengan Zahra disaat
Haflah Takhrij dulu. Dan ternyata dia menyapaku terlebih dahulu, dan aku sempat
memikirkan dan membayangkan siapa ini?. Beberapa detik kemudian Zahra
mengingatkan ku bahwa dia adalah adek kelasku dulu, dan aku langsung menatapnya
dengan serius melihat wajahnya yang semakin dewasa semakin cantik karena
kerudung panjangnya yang menutupi auratnya. Setelah itu kami
berbincang-bincang, bertanya-tanya tentang diri kita masing-masing, ternyata
dia kuliah di UI jurusan Sastra Inggris semester 2 Tak lama kemudian dia
memberikanku Nomor Handphone nya di sebuah kartu nama yang ternyata dia adalah
penerjemah novel di salah satu perusahan penerjamah terkenal.
Tanpa
disadari kami semakin akrab layaknya pasangan kekasih, setiap hari kami saling
menyemangati agar bisa lulus sesuai target dan bisa membahagiakan kedua orang
tua, tetapi aku saat iu aku tidak menyatakan perasaanku kepada Zahra. Ya
mungkin akibat aku terlalu sibuk pada kuliahku dan pekerjaan sampingan ku
sebagai penyiar radio dan penyiar berita di salah satu channel swasta di
Jakarta, dan aku juga sempat berfikir bahwa Zahra masih seperti dulu yang
menutup hatinya terhadap semua lelaki yang menyatakan perasaannya, sehingga aku
ragu untuk menyatakan perasaanku, tapi itu semua tak jadi masalah yang penting
aku dan Zahra masih bisa berkomunikasi dengan baik saling memperbaiki Ukhuwah
Islamiyah.
Saat aku
telah menyelesaikan skripsiku, hanya tinggal sidang skripsi aku mendapat SMS
Zahra yang saat itu Zahra masih kuliah semester 7 bahwasanya dia akan dijodohkan
dengan seorang anak teman baik bapak Sulaiman (Bapak Zahra), aku langsung syok
mendengar kabar itu, aku hanya bisa pasrah apabila Zahra memang bukan
jodohku. Dan Zahra selama 1 setengah tahun dia juga hanya pasrah dan berusaha
ikhlas terhadap pilihan orang tuanya. Karena menurutnya piliha orang tuanya
adalah yang terbaik baginya.
Setelah
aku resmi menjadi sarjana, hubunganku dengan Zahra semakin memburuk. Nomor Zahra jarang-jarang aktif, dan saat aktif SMS ku maupun
telfonku tidak pernah dijawab. Dan aku rela mengunjungi kampusnya, ternayata
dia sibuk untuk menyelesaikan skripsinya. Ya aku hanya bisa positif thinking.
Mungkin saat ini dia hanya ingin fokus sama skripsinya. Dan ternyata dia
dapat menyelesaikan skripsi tersebut dengan kilat tidak sesuai dengan
perkiraan.
Aku mendapat telfon dari Ayahku, bahwasanya
aku telah keterima menjadi penyiar berita dan sekaligus reporter di Stasiun
Televisi Indosiar. Dan ayahku menuruhku untuk segera pulang ke Lumajang,
sebagai tanah kelahiranku dulu. Dan aku pulang ke kota kelahiranku dengan
travel 2 hari setelah ayahku menelfon ku, karena barang bawaan ku terlalu
banyak. Saat aku sampai disana, rumahku telah banyak orang. Dan tanpa disadari
ternyata itu adalah keluarga Zahra dan disamping ibu Zahra ada Zahra yang
sedang menunduk dengan mengenakan gamis natural dan kerudung yang panjang
sehingga menutupi leher dan pundaknya. Dan aku hanya bisa bertanya-tanya, Ada
apa sebenarnya? Kok Zahra dan sekeluarga datang kesini?
“Assalamu’alaikum
Wr.Wb” Ucapku
“Waalaikumsalam
Wr.wb” jawab semua orang yang ada di dalam rumah.
“Loh? Zahra kok
bisa disini? Ada apa yak ok bisa sekeluarga datang kesini?”
“Perkenalkan
nak, ini adalah calon istrimu, dia adalah anak dari teman dekat ayah” tutur
ayahku
“Jadi aku akan
dijodohkan dengan Zahra yah? Tanyaku
“Iyaa nak, udah
sana taruh barang-barangmu di kamar”
Jawab ibuku
Hatiku tidak sudah bercampur aduk
rasa senang dan gembira, dan aku langsung mengirimkan 1 kalimat “Kau adalah
Jodohku” melalui HP ku kepada seseorang yang ada di kontak HP ku telah ku rubah
dari Adek Zahra menjadi Calon Istriku. Dan Zahra membalasnya “Rencana Allah lebih
indah dari yang kita fikirkan”
Tak lama kemudian, setelah aku
menaruh barang-barang yang ku bawa dari Jakarta aku langsung keluar kamar dan
terdengar bahwasanya aku dan Zahra akan melangsungkan akad nikah 1 bulan lagi tepatnya
tanggal 7 Agustus di Masjid Agung Surabaya, dan resepsi bernikahan akan dilaksanakan
di gedung serbaguna yang terletak di dekat Masjid Agung Surabaya. Dan ibuku dan ibundanya Zahra telah memilihkan
dan mendatangkan desainer untuk mendesaign pakain pernikahanku yang betemakan
Putih Suci.
Dan Zahra yang memilih undangan
pernikahan kita di suatu percetakan. Dia juga ternyata memilih undangan yang
berwarna dasar putih dan tulisan berwarna merah. Dan kami membuat daftar
undangan yang akan kami undang. Setelah satu persatu undangan selesai dikemas
dan dinamai sesuai dengan daftar undangan yang telah kami susun. Dan undangan
telah siap untuk disebarkan.
Setelah undangan semua telah
tersebar selama 1 minggu, Zahra langsung meninggalkan kota kelahiranku menuju
ke Tangerang, kota lahirnya. Disana dia harus menyiapkan segala macam yang
berhubungan dengannya, mulai dari make-up, baju ganti, kue, dsb. Saat semua
telah dipersiapkan dengan sempurna, Zahra berangkat ke kotaku sendiri dengan
membawa barang pribadinya dengan Pesawat Terbang yang terbang dari Bandara
Soekarmo Hatta Cengkareng dan turun di Bandara Juanda Surabaya. Setelah 1 jam 5 menit Zahra telah menelfonku bahwa
dia telah tiba di Surabaya, dan aku masih terkena macet menuju tol juanda, dan
aku mengatakan kepada Zahra “Tunggu Aku ya Sayang, aku masih terkena macet.
Perbanyaklah berdzikir, agar tidak ada hal yang buruk menimpamu. Aku sayang
kamu.” Sekitar 30 menit aku tiba dengan mobil yang ku beli sendiri dari hasil
kerja keras ku sebagai penyiar berita dan juga reporter, aku langsung menelfon
Zahra bahwa aku telah sampai di bandara. Tak lama kemudian dia juga datang
menemui ku dengan 2 koper dan 1 tas kesayangannya di tangannya. Dan kami
langsung meneruskan pejalanan kami ke lumajang.
Akad nikahku pun tiba, semua yang
telah ku rancang dengan Zahra berjalan dengan lancar. Zahra akan berangkat ke
Masjid Agung Surabaya dari hotel yang telah dipesannya terlebih dahulu karena dia
harus dipercantik dengan make-up, sedangkan aku berangkat satu jam setelahnya,
dan kami akan memulai akad pernikahan kami pada pukul 09:00 WIB, yang mana aku
telah berada di depan penghulu. Dan tak lama kemudian keluarlah sosok Zahra
dari pintu masjid selatan dengan pakaian yang serba putih dengan digandeng sang ibundanya. Kini Zahra menuju ke tempat ku
duduk, lalu dipasangkanlah kerudung putih panjang diatas kepalaku yang telah
ditutupi oleh kopyahku yang berwarna putih dan diatas kepala Zahra yang juga
telah dipenuhi dengan pernak-pernik diatas kerudung yang berwarna putih pula.
Setelah Zahra duduk disampingku, aku
mengeluarkan kalimat kepadanya “Doain semoga lancar ya!” kemudian Zahra hanya
mengangguk dengan memberikan senyuman kepadaku. Akad nikah pun dimulai, lafal
ijab dan qabul mulai dengan menggunakan Bahasa ara terucap dari mulut penghulu,
setelah penghulu selesai aku segera menjawabnya dengan Bahasa arab pula.
“الْمَهْر الْمَذْکُوْرَ
و رضيت بِهِ و له ولي التَّوْفِیْقُّ قبلت
نِکَاحَهَاوتزويجها عَلَي”
Ijab dan qabul pun lancar, setelah itu
kami menandatangani buku nikah dan mengambil foto ku bersama Zahra, dan saat
ini aku resmi menjadi imamnya Zahra. Dan ternyata tiba-tiba berdiri
teman-temanku MAKBI MAN 3 Malang serta ustadz dan ustadzah yang datang secara
berombongan, dan tak lama kemudian teman-teman dari Zahra serta teman-temanku
MI hingga MTs.
Setelah acara akad nikah selesai
kami berdua menuju penginapan miliknya pamannya Zahra untuk istirahat dan
persiapan acara resepsi besok. Acara resepsi dimulai pada pukul 08:00 WIB yang
menjadi MC yakni Iffah temanku SMA dulu yang ditemeni dengan suaminya, kemudian
ayat suci Al-Qur’an dilantunkan oleh Sharvina dengan suaranya yang merdu nan
indah, yang telah ku undang dan pinta pertolongannya. Dan acara selanjutnya
sambutan yang disampaikan oleh Ustadz Miftahul Huda, yang dulunya adalah Kepala
Sekolahku saat aku MTs. Dan selanjutnya adalah acara inti yakni resepsi,
sungkeman dan foto bersama.
Keluargaku dan keluarga Zahra foto
bersama, setelah itu keluarga Zahra turun dari panggung pernikahan untuk
menunggu keluargaku selesai foto bersamaku dan Zahra, dilanjutkan dengan
keluarga Zahra yang telah menanti di bawah panggung pernikahan. Setelah itu aku
di salami sahabatku MTs. Salah satunya adalah Lubab, dia udah gandengan sama
teman sekelasku Rayhatul, disusul deibelakangnya teman-temanku dari MAN 3
Malang, terutama yang banyak datang adalah teman-temanku sekelas. Ternyata 5
temanku sudah ada yang mendahului ku. Sudah ada yang punya keturunan malahan,
yakni Nabila Adeninia. Dia datang kesini denga suaminya dan bayinya yang baru 6
bulan.
Semua telah berakhir, aku berniat
menuju ke Zahra yang sedang berbincang-bincang dengan temannya dan mengajaknya
untuk menunaikan shalat dhuhur. Setelah itu kami pergi ke Masjid Agung Surabaya
yang tak jauh dari sini. Saat perjalanan kami sempat mengobrol.
“Selamat Zahra,
kau sekarang sudah resmi jadi Istriku, semoga rumah tangga kita langgeng”
“Iyaa mas, aku
kini akan menjadi imamku, aku juga berdoa seperti yang kamu inginkan mas, dan
doakan aku bisa menjadi istri yang taat pada Allah SWT dan kamu J”
“Iya insyaAllah
dek, kamu bisa kok”
“Iyaa makasih
ya mas, pokoknya kekuranganmu juga termasuk kekurangaku juga, begitupula kamu,
dan kita harus saling menjaga tersebut”
Shalat dhuhur selesai kamipun
langsung menuju ke penginapan yang mana disana telah dipasang hiasan di kamar.
Dan sebelum kami tiba di penginapan, kami sengaja berhenti di Taman Bungkul untuk
mengabadikan gambar setelah pernikahan. Dan sekarang kami selalu melaksanakan
shalat jama’ah dan selalu berdoa agar rumah tangga kami menjadi sakinah,
mawaddah, dan rahmah serta segera diberi keturunan yang sholeh maupun sholehah.
Amiiin J

Tidak ada komentar:
Posting Komentar