TEKS DRAMA "Prasangka Permata"

SINOPSIS
Permata Koeswara seorang gadis keturunan Jawa-Bali yang merupakan putri dari keluarga priyayi yang dekat sekali dengan Belanda karena Ibunya, Nyi Luh Koeswara yang merupakan antek Belanda hingga rela mengorbankan putranya untuk kerja rodi. Permata mempunyai kekasih yang bernama Josh Dicky, seorang dokter berkebangsaan Belanda yang sangat mencintai Permata dan mendukung semua kegiatannya. Namun, sayangnya mereka harus terpisahkan lantaran kekalahan pasukan sekutu di medan perang. Kedatangan tentara Jepang ke Indonesia membuatnya sangat membenci orang Jepang siapa pun itu. Karena Ayahnya yaitu Prijanto Koeswara yang sangat melindungi keluarganya harus terbunuh di tangan tentara Jepang karena Ibunya merupakan orang yang sangat dekat dengan pemerintah kolonial yang saat itu dianggap menjadi penjahat perang.
Kecantikan Permata lah yang membuatnya tetap hidup. Keelokan paras itu menarik perhatian salah satu jenderal yang merupakan ahli strategi perang Jepang yaitu Yukio Sugikomoto karena wajah Permata mirip sekali dengan tunangannya dulu, Tomoka. Tapi, Permata yang terlampau benci dengan orang Jepang karena menganggap mereka semua sama yaitu pembunuh, maka dia pun juga membenci Yukio. Apapun yang Yukio lakukan, Permata selalu berprasangka buruk kepadanya. Hingga akhirnya, Permata mengetahui bahwa Yukio begitu mencintainya dan ia juga berhati lembut yang tak akan menyakiti siapa pun yang tak bersalah selain itu juga merupakan salah satu orang yang membantu perjuangan kemerdekaan Indonesia. Permata pun ingin memiliki Yukio.
Semua itu hanya keinginan belaka, karena pada akhirnya Josh, sang kekasih hati Permata pun kembali lagi ke Indonesia bersama NICA dan berusaha mengambil hati Permata kembali. Teringat, akan janji-janji lampau, Permata tak ingin salah paham. Tak ingin lebih banyak yang sakit hati dan terlebih dia tak ingin berprasangka buruk pada Tuhan. Maka, dia pun memilih bersama Josh karena Yukio juga dengan rela mendustai hatinya karena sangat berhutang budi dengan Josh yang telah menyelamatkannya lewat operasi setelah dia tidak sengaja tertembak tentara NICA. Walaupun keduanya –Yukio dan Permata- pada akhirnya juga tahu bahwa mereka saling mencintai. Namun mereka tetap menerima dan berprasangka baik pada Tuhan, bersyukur, dan menikmati untuk melanjutkan kehidupan mereka masing-masing.








PENOKOHAN
1.      Permata Koeswara
Seorang gadis keturunan Jawa-Bali yang merupakan putri dari keluarga priyayi, dia mempunyai watak yang selalu berburuk sangka dan berwatak yang keras. Dia juga teguh pendirian. Dan dia selalu bertindak sesuka hatinya tanpa berfikir panjang.
2.      Nyi Luh Koeswara
Dia adalah ibunda tiri dari Permata Koeswara, dia juga merupakan antek Belanda hingga rela mengorbankan putranya untuk kerja rodi. Sehingga apa saja yang diinginkan Belanda Nyi Luh Koeswara selalu mengabulkan permintaannya. Dan dia merupakan orang yang sangat dekat dengan pemerintah kolonial yang saat itu dianggap menjadi penjahat perang.
3.      Prijanto Koeswara
Dia adalah ayahanda dari Permata Koeswara yang mana ia selalu mencintai anaknya dan selalu menjaga keluarganya dengan baik dan juga bertanggung jawab sehingga Ayah dari Permata Koeswara rela terbunuh di tangan Jepang.
4.      Josh Dicky
Seorang dokter berkebangsaan Belanda yang sangat mencintai dan menyayangi Permata, dan dia mendukung semua kegiatan yang dilakukan Permata. Namun, sayangnya mereka harus terpisahkan lantaran kekalahan pasukan sekutu di medan perang, tetapi dia tetap menjaga hatinya untuk Permata seorang.
5.      Adjeng Kamaratih
Sahabat Permata Koeswara yang selalu menemaninya dan menjadi teman curhat dan sekaligus sebagai pembawa kabar yang telah terjadi luar. Dia sangatlah sopan terhadap keluarga priyayi Koeswara. Dan dia selalu membela yang benar.
6.      Yukio Sugikomoto
Salah satu jenderal yang merupakan ahli strategi perang Jepang, dia sebenarnya mencintai dan baik hati terhadap Permata Koeswara yang mirip dengan kekasihnya Tomoka yang telah wafat, tetapi dihadapan Permata ia selalu menyembunyikan perasaannya dan mengaku kepada Permata hanya ingin melindunginya dan sebagai perlakuan maaf yang telah ia lakukan kepad Tomoka yang pada waktu itu tidak ia jaga.




Jejak Sejarah
Serangan di Pelabuhan Pearl Harbour pada tanggal 7 Desember 1941 oleh Akihito yang mengakibatkan 188 pesawat terbang Amerika rusak atau hancur, serta menelan 2.403 korban jiwa. Di lain pihak, Akihito 'hanya' kehilangan 55 dari 441 pesawat yang digunakan dalam serangan. Sejak saat itulah Perang Dunia II berkobar. Pada awalnya, tentara Fasis yang terdiri dari Akihito, Italia, dan Rusia pun mereguk kebahagiaan atas kemenangan. Kekalahan Blok Sekutu saat itu tentu juga merubah peta kekuasaan atas kependudukan negara-negara kedua yang masih terjajah. Termasuk salah satunya negeri yang indah, Indonesia. Indonesia pun diduduki oleh Akihito pada tanggal 8 Desember 1942 dimulai dari Kalimantan hingga seluruh pelosok negeri. Namun, kebahagiaan menduduki yang hebat itu tidak berlangsung lama hanya sekitar 3 tahun. Titik puncak perjuangan bangsa Indonesia dimulai tanggal 10 Agustus 1945, saat Akihito menyerah kepada Sekutu, terjadilah kekosongan kekuasaan yang akhirnya dimanfaatkan oleh para rakyat Indonesia dengan mendapatkan beberapa bantuan kecil dari jenderal Akihito untuk menjadikan Indonesia menjadi negara yang merdeka dan berdaulat pada tanggal 17 Agustus 1945. Namun, rupanya Sekutu masih tamak akan daerah jajahan sehingga mengirimkan tentaranya yang diboncengi oleh NICA dengan dalih  datang untuk melucuti senjata tentara Akihito. Namun, bangsa Indonesia dengan ketangguhannya dapat mempertahankan negaranya yang sangat mereka cintai.

PRASANGKA PERMATA
Cuaca cerah pagi hari Pelabuhan Pearl Harbour, West Virginia tiba-tiba dikejutkan oleh sebuah ledakan keras dari tabrakan pesawat bunuh diri yang dikendarai oleh pasukan berani mati fasis, Akihito. Nun jauh disana di sebuah negeri yang tengah dijajah oleh para pengelana dari negeri dam, di pagi yang buta seorang wanita cantik, Adjeng Kamaratih dengan panik segera keluar dari rumahnya dengan mengendap-endap. Tujuannya hanya satu! Rumah Permata Koeswara, sahabat terkasihnya. Dengan membawa serta radio kesayangannya, Adjeng berjalan dengan gontai.  Sebenarnya hatinya begitu galau mendengar berita barusan. Pearl Harbour diporakporandakan hanya dengan Kamikaze? Bagaimana bisa semudah itu? Sebagai seorang terdidik dia tentu tahu artinya ini, bayangan negerinya akan merdeka setelah pasukan sekutu berhasil ditumbangkan oleh tentara fasis membuat dirinya begitu bahagia. Tapi, melihat kenyataan yang ada Adjeng lebih mengerti lagi, kemerdekaan itu masih menjadi misteri. Akankah negerinya yang indah ini menjadi benar-benar seperti yang diimpikannya, yakni merdeka atau malah akan ada bencana yang lebih dahsyat dengan kedatangan penjajah yang lebih kejam? Pertanyaan itu menggantung di udara bergerak turbulens ke atas. Menunggu dijawab Tuhan.
Adjeng            : (Berjalan cepat) Duh Gusti, Pangapuntenmu ingkang agung. Gimana caranya aku bilang semua ini ke Permata . Ini pertanda buat dia. Sinyal besar buat perjuangannya. Oh iya, aku juga melupakan Mister Josh. Bagaimana ini?! Permata ?! (berhenti, tidak sadar kalau sudah di depan jendela kamar Permata ) Apakah takdirmu memang kamu harus kehilangan orang yang kamu cintai lagiiii?!
Permata           : (Membuka jendela) Tolong jangan berisik, Kamaratih! Ini masih pagi buta. Ada apa kau kesini?
Adjeng            : Me...Mengapa kau tahu kalau aku ada disini Permata ? Apa kamu ada firasat buruk?
Permata           : Bicara apa kau Kamaratih? Aku hanya tidak bisa tidur semalaman. Akan aku bukakan pintu. Kita bicara di dalam. Segera seret langkahmu menuju pintu depan. (Adjeng mengangguk, Permata  menutup pintu)
Adjeng            : Huh, mengapa dia begitu tenang. Aku membenci ketenangan Permata. Inilah yang semakin membuatku tak kuasa berbicara dengannya. Aku tahu dia sangat mencintai Josh. Haruskah dia kehilangan lagi? (berbisik, Permata membuka pintu)
Permata           : Masuklah Adjeng. Ingatlah untuk mengontrol suaramu. Bapak sedang sare di kamar depan sama Ibu.
Adjeng            : Tentu, aku mengerti unggah-ungguh, Koeswara. Walaupun aku bukan anak priyayi. (muka nyengir)
Permata           : Ini bukan saatnya bercanda, Adjeng. (wajah serius)
Adjeng                        : Tolong, jangan bikin aku gugup, Koeswara. Ini bukan saat yang tepat.
Permata           : Aku tahu kamu pasti akan menyampaikan suatu berita penting, Adjeng. Maka, segera nyalakan radionya. (mengajak Adjeng duduk di ranjang)
Adjeng            : Wong sabar disayang gusti Allah, Permata Koeswara. (mulai menyalakan berita dari radio dan mendengar semuanya, Permata  mulai berkaca-kaca)
Permata           : Aku tahu, aku tahu saat ini akan datang, Adjeng Kamaratih. Saat dimana aku harus kehilangan pelindungku lagi. (mulai menangis) Aku tahu ini perang dan untuk kemerdekaan kita harus berkorban sebanyak-banyaknya. Iya, kata-kata Bapak memang selalu benar. Tapi, aku belum siap kehilangan lagi, Kamaratih. Karena kehilangan Josh sama saja dengan bunuh diri. Kehilangan perlindungan, rumah belajar untuk anak-anak. Ini benar- benar kabar buruk, Kamaratih (mulai tersengal). Kita tidak pernah tahu orang Akihito itu gimana? Duh Gusti, Kula nyuwun pangapura. Aku belum siap kehilangan kembali, Kamaratih. Masih membekas soal Kangmas dulu, ditem….
Nyi Luh           : (Tiba-tiba masuk) Cukup, Permata. Apa yang kau bicarakan? Tidak ada yang akan kehilangan pelindung. Pemerintah kolonial akan selalu melindungi kita. Karena kita membantu mereka untuk mengumpulkan pajak dari rakyat.
Permata           : Kita hanya kacung, bu. (berdesis)
Nyi Luh           : Jaga unggah-ungguhmu, Permata. Kita ini adalah Priyayi. (mendelik ke arah Permata  dan beralih ke Adjeng). Mengapa kau bisa ada disini, Nak Kamaratih. Segera kembalilah ke rumah. (melihat Adjeng yang masih diam, menepuk pundaknya) Bersegeralah arek ayu, kau tentu tidak mau kan Bapakmu nanti kena kerja rodi karena kamu menentang keluarga priyayi?
Adjeng            : I..Iya, Kanjeng. Baik, Kanjeng Nyi Luh. Saya mohon pamit (membungkuk dan pergi).
Permata           : (Setelah Adjeng pergi) Permata tahu Ibu orang terhormat. Tapi, sungguh dengan tidak mengurangi kasih sayang dan rasa hormat ke Ibu. Permata  mohon, bu. Jangan terlalu suka disembah dan dijilat. Pemerintah Kolonial itu pembual, bu. Adjeng dan orang – orang seperti itulah, yang sebangsa dengan kita yang harusnya dibela, bu. Bukan pemerin..
Nyi Luh           : Cukup, Permata! Mengapa kau menggurui Ibumu sendiri?! Sudahkah kau merasa dirimu cukup pintar dengan membaca semua buku-buku yang diberi Josh itu?
Permata           : Titidak bu. Bukan maksud Permata  seperti itu. Agunging pangapunten, bu. Permata  salah.
Nyi Luh           : Sudahlah ini belum lebaran. Maka, belum waktunya maaf-maafan. Segera sana mandi. Biar kusuruh Sukijah menyiapkan air untukmu. Suuk.. (berteriak)
Permata           : (Menahan tangan Nyi Luh) Tidak usah, bu. Permata  bisa menyiapkannya sendiri. Matur sembah nuwun.
Nyi Luh           : Halah, diajak enak ora gelem. Yawes, sak karepmu lah (Permata  hanya tersenyum dan pergi)
Hari ini padang bulan. Selepas maghrib banyak anak yang berkumpul. Seusai maghrib, seminggu setelah penyerbuan Pearl Harbour itu usai. Permata  belum bisa bernapas lega. Dia memandang Josh. Berharap agar dia takkan pernah pergi. Tapi, itu adalah mustahil. Permata  rasa kesempatan itu pasti akan datang. Walaupun perasaan tak mau kehilangan lagi itu begitu besar. Bisa jadi, Padang Bulan ini tak akan menjadi saat terkhirnya dengan Josh. Walau dia tahu semua itu hanyalah dusta untuk berkata bahwa Josh tetap akan disini, mencintainya. Tapi, Permata  tetap menginginkannya karena untuk saat gawat ini hanya dia pelipur hati.
Josh                 : Kamu kenapa, My Lady? Apa ada yang salah di wajahku?
Permata           : Ya, aku terlampau membenci senyummu, Josh. (tersenyum getir).
Josh                 : Oh, ayolah. Mengapa wanita selalu rumit? Ada apa?
Permata           : Aku ingin kau berdusta untukku.
Josh                 : Dusta apa? Tidak ada yang perlu didustakan. Semua baik-baik saja.
Permata           : Sudahlah Josh. Kamu tentu sudah dengar Pearl Harbour. Aku tidak bodoh. Berdustalah!
Josh                 : Untuk apa? (menggeleng)
Permata           : Sudahlah. Aku hanya takut kehilangan.(Berdesis) Aku hanya tak ingin ini adalah padang bulan terakhirku denganmu sebagaimana aku juga hanya melewatkan satu kali Padang Bulan terakhirku dengan Kangmas.
(Seorang anak berlari mengahampiri Josh dan Permata  dengan membawakan bunga. Permata  megambilnya)
Permata           : Terima kasih (mengucapkan dengan lirih dan anak itu mengangguk kemudian pergi)
Josh                 : Kangmas?  Anak laki-laki yang berada di gambar itu? Siapa namanya?Tirta?
Permata           : Benar, aku kehilangan dia dua tahun yang lalu, Josh. Semuanya karena Daendels dengan programnya Jalan Anyer-Panarukan itu. Yah, sebuah ide gila yang membuatku terpisah dengannya. Ayah ditodong laras panjang supaya mau kerja rodi. Padahal beliau sudah berumur, Josh. Maka, Ibu mengorbankan  satu-satunya pelindungku (berkaca-kaca). Anak tirinya yang selalu dianggap pembawa sial untuk dijadikan pekerja rodi. Kangmas ndak mau, karena dia benar-benar anti Belanda, Josh. Dia berusaha kabur kemudian ditembak dengan laras panjang di depan mataku. Itu sangat menyakitkan. Maka tolonglah aku, berdustalah. Katakan kau tak akan pergi (menoleh kepada Josh)
Josh                 : Maafkan aku, Permata . Harusnya tidak seperti itu kan? Aku tahu ini salah bangsaku. (menggenggam tangan Permata )
Permata           : Tak ada yang perlu dimaafkan, Josh.(melepaskan genggaman tangan Josh)                        Kangmas Tirta telah memilih jalannya. Begitu juga denganku.
Josh                 : Aku sangat membenci perang (menunduk). Aku seorang dokter, berhak menolong siapapun. Rasanya sulit di era perang ini, kewajiban menolong sesama itu (tersenyum getir).
Permata           : Jangan takut menjadi pengkhianat, Josh. Asal kita tidak mengkhianati Tuhan, itu cukup. Aku juga membenci perang, perebutan wilayah omong kosong ini. Maka, sekali lagi aku mohon dengan sangat, Josh. Berdustalah padaku, berkatalah bahwa kau tak akan pernah beranjak dari negeri ini. Kau akan selalu membantuku merawat semua anak-anak ini, memintarkan mereka. Tolong Josh (air mata mengalir perlahan).
Josh                 : (Tersenyum dan menghapus air mata Permata) Tidak ada yang perlu didustakan, Permata . Because here it’s the fact. Sekarang akulah pelindungmu. Aku tak akan kemana-mana. Semuanya baik-baik saja. Percayalah, tak akan ada yang terluka lagi. (memandang Permata  dalam-dalam)
Permata           : (Memalingkan muka dan tersenyum getir) Danke, Josh.
Josh                 : Belum, Permata . Kau juga harus berjanji padaku.
Permata           : Janji akan apa?
Josh                 : Berjanjilah untuk setia padaku, hanya mencintaiku.
Permata           : Tentu saja, Josh. Aku berjanji.. (berdiri)
Josh                 : Danke, Permata .
Permata           : Aku tahu itu pasti akan terjadi, Josh. Kau akan meninggalkanku.
Josh                 : Mengapa kau tak mendengarkan aku, Permata ?
Permata           : Karena takdir tak bisa dilawan, aku hanya mencoba seperti apa yang engkau katakan....
Josh                 : Berprasangka baik pada Tuhan... (tersenyum)
Tiga bulan setelah Pearl Harbour, dusta itu kini semakin tampak nyata. Permata Koeswara mulai menyadari waktunya semakin singkat dengan Josh. Rasa takut akan kehilangan semakin begitu terasa. Tidak pernah dia merasa sekhawatir ini. Padahal semuanya masih tampak ‘normal’. Tarakan sudah jatuh ke tangan Akihito, dia tahu kenormalan ini begitu janggal. Hanya tinggal menunggu waktu semuanya. Tapi, dia masih berusaha, berpikir positif pada Tuhan. Walaupun dia tahu, mungkin sebentar lagi rumahnya akan menjadi saksi bisu dari semuanya. Semua yang akan terjadi pagi itu.
Permata           : Ibu, Ibu (berlari kecil mengejar ibunya). Agunging pangapunten, Ibu. Itu semua darimana, bu? (sambil menunjuk perhiasan yang dikenakan Ibunya)
Nyi Luh           : Ada apa toh, nduk? Bagus kan antingnya, kalungnya, cin...
Permata           : Iya, bu (langsung mengangguk). Tapi, darimana uangnya, Ibu?
Nyi Luh           : Pak Werdara bagi-bagi duit, nduk. Hahaha.
Permata           : Maafkan Permata, bu. (Mengernyit) Tapi, Pak Werdara bukan orang yang seperti itu.
Nyi Luh           : Halah, Ibu ini orang Bali yang sudah bisa ngadepin banyak orang, nduk. Bahasa Jawa aja Ibu bisa cepet. Bahasa Belanda juga lah. Ya jelaslah, langsung dikasih sama Pak Werdara pas ibu bisa ngomong walaupun sedikit saja.
Permata           : Ibu janjikan apa? (nada tegas)
Nyi Luh           : Kamu kok gini toh? Sudah gak punya unggah ungguh ya? Sudah berani ikut campur urusan orang tua.
Permata          :Permata ndak mau. Ibu jual Permata seperti Ibu dulu jual Kangmas Tirta ke Ain
Nyi Luh           : Ndaaaak (membentak). Itu kesalahan masmu yang sok kabur. Jangan salahkan, Ibu. Lagipula pak Werdara sudah menjamin keselamatannya juga sebenanya.
Permata           : Sudahlah, bu. Permata  tak ingin berdebat. Ada apa ini, bu? Apa syaratnya supaya Permata  bisa tahu?
Nyi Luh           : Yo wes. Gini loh, nduk. Ibu hanya berjanji ke Pak Werdara itu untuk tidak keberadaannya apapun yang terjadi. Maka, mengalirlah uang itu terus menerus. Syaratnya... Jangan bilang bapakmu loh, nduk.
Permata           : Permata  ndak percaya. Ibu bakal jadi anteknya orang yang bakal membunuh kita satu persatu. (menggeleng)
Nyi Luh           : APA?! Berani sekali, kamu bilang seperti itu ke orang yang sudah me...
Permata           : Maafkan, Permata, Bu. Tapi, Ibu bukanlah orang yang melahirkan dan merawat Permata . Ibu adalah istri Ayah. Maka sudah cukup, bu. Ini sudah cukup.
Nyi Luh           : Beraninya kauuuuu. Plaaaaak (menampar)
(Adjeng masuk dengan terburu-buru)
Adjeng                        : Permataaaa. Gawaaaaaaat...
Nyi Luh           : Ini juga anak gak punya unggah-ungguh (meludah di depan Adjeng)
Permata           : Sampun, bu. Sudah cukup. Ngapunten, tapi Adjeng ndak salah, bu. Agunging pangapunten (sambil memegang pipi). Matur sembah nuwun buat penjelasannya. Ayo, Adjeng (menggeret tangan Adjeng dan pergi duduk)
Nyi Luh           : Dasar, anak ndak punya unggah-ungguh! (beranjak ke dalam)
Permata           : Ada apa, Jeng?
Adjeng            :           Kanjeng Nyi Luh ada apa, Permata ?
Permata           : Sudahlah, lupakan Ibuku. Ada apa? Kamu tak mungkin kesini kalau tidak ada hal penting, Adjeng.
Adjeng                        : Astagfirullah! (menepuk jidat) Ini aku dapet kabar kalau Josh pergi?!
Permata           : Sudah kuduga (tersenyum).
Adjeng                        : Kau tidak menangis, Permata . Dengan semua ini?
Permata           : Untuk apa, saudaraku, Adjeng. Sudah kodratnya dia pergi. Tapi, dia sudah berjanji untuk menjadi pelindungku.
Adjeng            : Kamu mengikhlaskan kepergiannya, taaa? Tanpa mengharap apapun? (menggeleng)
Permata           : Tentu saja. Itu yang terbaik baginya. (tersenyum) Josh Dicky lebih aman di Belanda.
Adjeng            : Kau selalu begitu, Permata . Namamu sangat menggambarkan kepribadianmu. Keras dan tegar.
(terdengar ledakan pistol di luar)
Permata           : Astaghfirullah! Ada apa ini? (segera mengintip)
BRAAAAAAKKKKKK (pintu dibuka secara paksa. Permata dan Adjeng langsung berdiri merapat. Kedua orang tua Permata  keluar. Terlihatlah Prajurit Jepang)
Prijanto            : Ada apa dengan semua, ini! Tidakkah kalian bisa masuk lebih sopan?! Saya Kepala Keluarga di sini!
Akihito            : Nyi Luh Maheswara (mengarahkan laras panjang ke Prijanto)
Prijanto            : Ada apa dengan Nyi Luh? Nyi Luh, ada apa dengan kamu?! Semua ini ada apa?! Apa yang telah kau perbuat? Mana janjimu untuk tidak berulah lagi, Nyi Luh. (berdesis dan Ibu Permata  hanya menggeleng)
Akihito            : Katakan dimana Mister Wilhelm van Robust dan Soepriyono!!!
Prijanto            : Kami tidak mengetahuinya!!
Akihito            : Dia (menodongkan laras panjang ke Nyi Luh) tahu.
Prijanto            : Jangan bersikap seperti itu. (mendorong laras panjang dari tubuh sang istri) Saya kepala keluarga di rumah ini! DAR (suara tembakan, Permata , Adjeng dan Nyi Luh menjerit. Prijanto memegang dadanya yang penuh darah)
Permata           : Katakan Ibu Nyi Luh! Katakaaaan. Apakah kau puas dengan semua ini?!
Nyi Luh           : Diamlah, Permata! Ibu tidak bisa berpikir!!!
Permata           : Ibu?! Siapapun Ibuku dia tak akan mengutamakan harta daripada nyawa suami yang sangat mencintainya! Cepat katakan! (berteriak getir)
Nyi Luh           : DIAAAAAM! SEKARAANG MEREKA DI PRIANGAN! PUAS KAMU SEK.... DAR (Tembakan kedua, Adjeng dan Permata  menjerit. Nyi Luh tersungkur dengan kepala pecah)
Akihito            : Bagero (meludahi Ni Luh) Bawa dua wanita cantik ini. Jadikan jugun ianfu yang melayani nafsu para jendral.
(Adjeng menangis, Permata  memberontak dibawa oleh orang jepang).
Tidak pernah Permata merasa sesakit ini. Alam mimpinya hanya langit yang menghitam dan tanah yang kering kerontang. Sekering hatinya. Pikirannya kini tak bisa lagi dipenuhi prasangka-prasangka baik pada Tuhan. Setelah dibawa oleh Prajurit Jepang, hidupnya lebih sengsara. Setiap hari tenaganya diperas, lebih kejam daripada rodi. Tapi, selama hampir 2 tahun lebih sejak dia ditangkap tidak ada yang berani menyentuh kehormatannya. Entah karena dia yang terlalu kejam atau memang isu itu benar. Permata Koeswara sesungguhnya akan dibawa ke jenderal Jepang yang luar biasa cerdas untuk dijadikan jugun ianfu, budak nafsu dari jendral yang entah siapa namanya.
Akihito            : Bawa gadis ini ke Jenderal sekarang! (menampar Permata ) Yukio-san ada di dalam ruangan itu. (menunjuk ke ruangan)
Permata           : (menghela napas berat) SIAPA DIA?! BODOH! (meludahi Akihito)
Akihito            : Bagero! Kau adalah Jugun Ianfu terburuk. Kenapa Jenderal Yukio-San menaruh hati padamu! (menjambak rambut Permata) Menarik sekali, seandainya bukan dia. Sudah kulumat habis kau (mengelus wajah Permata  dan Permata  kembali meludah). BAGEROOOO!! Cepat bawa dia masuk! (Permata  bergegas dibawa masuk oleh pengawal yang lain diikuti oleh masuknya orang jepang)
Akihito            : Inilah yang kujanjikan padamu, Yukio-San. Luar biasa, bukan?! Setelah semua keindahan dunia yang ada di sini. Tidakkah kau sangat tertarik pada yang ini.
(Yukio menghela napas panjang, menatap Permata  lekat)
Yukio              : Tinggalkan aku dan dia di ruangan ini sendiri?!
Akihito            : Wow, kau cepat sekali rupanya untuk tergoda! Tau gitu aku membawanya dari dulu!
Yukio              : Apakah kau benar-benar menginginkan aku berubah pikiran?!
Akihito            : Oh, tentu tidak Yukio-San! Silahkan menikmati.
(Akihito dan prajuritnya menutup pintu dan jendela juga membiarkan Yukio dan Permata  berdua)
Yukio              : Apakah kau mau berjanji untuk tidak berteriak dan meludah setelah aku melepaskan ikatanmu? (Permata  hanya diam)
Yukio              : Aku tidak bermaksud buruk padamu. (Permata  mengangguk dan Yukio melepaskan ikatannya)
Yukio              : Marilah, kita buat mudah, hime. Saya menginginkan anda, dan anda menginginkan kehidupan. Tinggallah denganku.
Permata           : Aku tidak mau tidur dengan orang yang sudah membunuh keluargaku.
Yukio              : Anda salah, hime. Saya tidak sedang ingin tidur dengan anda. Saya hanya ingin anda tinggal dengan saya.
Permata           : Tidak gratis.
Yukio              : Apa syarat yang anda ajukan, hime?
Permata           : Adjeng sahabat saya juga harus tinggal bersamaku. Aku tidak peduli bagaimana kau mendapatkannya. Carilah dia. Adjeng Kamaratih namanya.
Yukio              : Masalah mudah, tapi, dia tak akan pernah sama dengan anda.
Permata           : Apa maksudmu, Keparat?!
Yukio              : Anda adalah Nyonya Rumah dan dia adalah pembantu. Menikahlah denganku? (mendekat ke wajah Permata , memegang dagu Permata )
Permata           : (meludah) TIDAAK!
Yukio              : Hime, sepertinya aku akan kerepotan berurusan denganmu. Kau sudah berjanji bukan?! Hime, jika bukan karena Tomoka. Aku sudah membinasakan orang yang ingkar janji. (mengikat kembali) Akihito! Masuklah! Segera bawa hime ini. Dia mengingatkanku pada Tomoka-ku. Aku akan membantumu disini. Hingga usai.
(Akihito dan prajuritnya masuk, prajuritnya langsung membawa Permata  dengan kasar)
Yukio              : Perlakukan dia dengan baik, Akihito! Atau aku akan membatalkan semuanya.
Akihito            : Tenang saja, Yukio-San. Kau akan mendapatkan segalanya.
Yukio              : Ingat! Hanya strategi. Tak lebih.
Akihito            : Tentu, tentu Yukio-San. Arigatou Gozaimasu. (pergi dan menutup pintu)
Pelangi itu tak pernah muncul lagi dalam mimpi Permata  karena prasangka buruk yang begitu kuat. Hanya kabut tebal yang tersisa, memilin segala kenangan yang ada. Memilin keperihan mendalam, yang tidak pernah terlukiskan. Jika memang ini jalan hidupnya. Apakah memang harus sesakit ini? Apakah harus kehilangan semuanya? Permata  begitu lelah dengan semua ini. Dia sangat merindukannya. Merindukan kecupan hangat di ubun-ubun oleh Ayahnya, dekapan hangat Kangmas Agus, dan mata coklat hazel Josh yang menenangkan. Tapi, sampai kapan kabut berpilin ini akan usai? Walau mentari telah terbit berulang kali selama seminggu ini, Permata  masih tak kunjung melihat pelangi.
Yukio              : (mengetuk pintu) Hime, saatnya sarapan!
Permata           : (menyibakkan selimutnya) Iya.
(keduanya beranjak ke meja makan)
Yukio              : Hime, Mengapa kamu tidak menyentuh makananmu sama sekali? Apakah kamu tidak lapar? (ucap Yukio lembut dan Permata  hanya menggeleng pelan)
Permata           : Aku sudah mulai jijik makan semeja dengan orang yang membunuh keluargaku.
Yukio              : (meletakkan sumpitnya) Hime, mengapa kau terus-terusan berkata seperti itu? Hal ini sangat menyinggung perasaanku. Tidakkah Hime mengerti bahwa yang membunuh keluarga Hime bukan saya? Tapi, orang yang lain?
Permata           : Aku tidak peduli. Kalian semua sama saja. Sebangsa.
Yukio              : Engkau salah, Hime! Aku adalah ahli strategi. Prinsipku, aku tidak akan pernah membunuh orang yang tidak bersalah.
Permata           : Baguslah, kamu sudah mengakuinya. Ibu tiriku antek Belanda. Dia dekat sekali dengan orang-orang Belanda. Sudah pasti kan di matamu dia adalah penjahat?
Yukio              : Sudahlah, ini pagi yang cerah. Saya tidak mau berdebat dengan anda, Hime. Lebih baik, saya keluarkan kejutan itu sekarang. Karena saya begitu benci apabila lingkar hitam di sekitar mata anda itu bertambah. Silahkan masuk, Adjeng-san.
(Adjeng masuk dan Permata  langsung beranjak dari kursi, memeluk Adjeng)
Adjeng                        : Apa kabar, Permata ?
Permata           : (menggeleng perlahan) Aku yang seharusnya tanya, Adjeng. Bagaimana kabarmu?
Adjeng                        : Aku... Baik. Makanlah, Permata. Tubuhmu sekarang tak ubahnya mayat hidup.
Permata           : Kau bisa saja, Adjeng. Kau makanlah juga (menarik tangan Adjeng dan menyeretnya ke tempat duduk)
Yukio              : Kalian berdua makanlah. Aku akan berangkat kerja terlebih dahulu.
Permata           : Arigatou.
Yukio              : Dou Itamashite, Hime. Jadilah ceria (tersenyum kepada Permata  dan langsung pergi)
Adjeng                        : Apakah dia sering memukulmu, tan?
Permata           : Dia menyentuhku saja tidak pernah.
Adjeng            : Apakah kau yakin?! Bagaimana mungkin orang jepang ada yang seperti itu, Koeswara?
Permata           : Aku sudah bukan priyayi lagi. Jangan panggil aku dengan nama belakang lagi. Aku orang bisa sekarang, Adjeng. Kita sama.
Adjeng                        : Tidak, Permata . Kau adalah nyonya rumah.
Permata           : Itu sebutan bagi jugun ianfu punya jenderal jepang?
Adjeng                        : Jugun Ianfu? Kau bilang dia tidak menyentuhmu?
Permata           : Benar. Tapi, aku muak dengan penjara ini. Muak dengan segala yang ada. Aku ingin kabur, Kamaratih (berbisik)
Adjeng                        : Benarkah?! Tapi, apakah itu mungkin?
Permata           : Tidak ada yang tidak mungkin, Kamaratih.
Adjeng            : Koeswara, tidakkah kau tahu seberapa ketatnya penjagaan disini? Untuk masuk sini saja aku seperti masuk ke dalam Keraton. Lebih ketat malah.
Permata           : Sudahlah, Kamaratih. Kamu mau tidak? Kalau aku sih tidak mau mati di sini. Di rumah orang yang telah membunuh kedua orangtuaku.
Adjeng            : Bukan Jenderal Yukio yang membunuh kedua orangtuamu, Permata. Tapi, orang lain sepertinya.
Permata           : Apa peduliku? Mereka sama saja. Sama-sama bangsat.
Adjeng                        : Sepertinya berbeda. Jauh berbeda.
Permata           : Kau ini, selalu sama. Baru ketemu sudah ngajak berantem. Mau kabur bersamaku ndak?
Adjeng                        : Selama dengan kau, aku mau lah, Ta. Kita harus akhiri semua ini.
Permata           : Aku beruntung menjadi sahabatmu, Adjeng. Kau orang yang sangat setia.
Adjeng            : Beragam cerita, Permata. Sudah kenyang aku dengan siksaan, apalagi hinaan. Tubuhku sudah hina, Permata . Aku siap apabila siapa pun yang dekat denganku asal mereka tidak akan pernah meninggalkan aku. Mungkin itulah yang membuatku pasrah dan dewasa. Asal ada orang yang tetap mau setia disampingku, membuatku melupakan kehinaan ini.
Permata           : Sudahlah, Kamaratih. Lupakan semuanya. Mari kita susun rencana. Aku yakin tembok berlapis ini pasti ada celahnya.
Kabut itu sudah mulai menghilang berganti dengan labirin-labirin panjang yang berkelok-kelok tak pernah berakhir. Di tepi-tepinya mulai ada setetes demi setetes embun prasangka baik pada Tuhan. Prasangka bahwa dia akan segera keluar dari labirin itu. Karenanya Permata  sangat menyukainya. Inilah rencana-rencana yang disusunnya bersama Adjeng untuk kabur. Labirin-labirin itu sangat menantang. Penuh dengan lika-liku. Hingga tiba-tiba meletuplah cahaya kembang api yang sangat besar dari labirin itu. Menyilaukan pandangan, membuat labirin yang hampir terpecahkan itu berubah lebih rumit lagi. Ini mimpi yang berbeda, Permata  terbangun dengan kepala yang begitu pening.
(terdengar percakapan di luar kamar)
Permata           : Jam berapa sekarang? (melihat jam) Duh gusti, ini masih jam 12 tapi kok ya sudah rame di luar (sambil memegang kepala berjalan keluar, terdengar suara ribut di ruang kantor Yukio, menguping dan mengintip).
Yukio              : Sudah kubilang kan, bahwa ada penghianat di antara kita.
OTD 1             : Tapi, itu tidak mungkin, Jenderal.
Yukio              :Sampai kapan pun rencana ini tidak akan pernah berhasil. Ini demi kesejahteraan mereka. Tidakkah kalian semua mengerti?
OTD 2             : Tentu, kami mengerti, Jenderal. Karena kami juga mengharapkannya. Lalu siapa yang berpotensi menjadi penghianat itu, Jenderal? Semua yang ada di sini steril, bersih namanya.
Yukio              : Itu menurut penilaian anda.
OTD 1             : Lalu siapa yang menghianati kita?
Yukio              : Anda ada dimana saat itu? Pada pukul 12?
OTD 1             : Di rumah, Jenderal. Maaf waktu itu saya tidak bisa berjaga karena sedang tidak enak badan.
Yukio              : Kalau anda?
OTD 2             : Saya sedang berada di rumah pengasuhan, mengasuh anak yatim piatu dan memberikan pengajaran padanya.
Yukio              : Apakah anda yakin?
OTD 2             : Tentu saja, pak.
Yukio              : Kalau begitu.... DAR! (suara tembakan dan pintu pun terbuka)
Permata           : BRAAK (suara pintu terbuka) Sudah kuduga, Yukio-San! Aku telah menduga dari awal. Saat ini pasti datang. Kau pasti membunuh pribumi ini karena dia tak bisa jadi informan yang baik kan?! Bagero, Yukio-San. Saya membenci andaaa! (menutup muka dan langsung berpaling, suasana hening sejenak)
Yukio              : (muka sedih) Ini tak seperti yang kau pikirkan, Hime (berdesis). Tapi, lebih baik kau tak mengetahui semuanya.  Agar kau tak pernah kucurigai. Tetaplah di sini Tomoka-ku. Mengapa kalian berdua begitu mirip? Apakah kamu reinkarnasinya? (terdiam kemudian menunjuk orang yang habis ditembak) Bereskan dia, Sam. Hilangkan noda di karpet. Jangan pernah ada pertemuan di sini lagi. Cari tempat aman.
OTD 1             : Iya, Jenderal.
Jika malam ini sempat tertidur, maka mungkin malam ini akan menjadi tidur Permata  yang paling lelap. Dia akan bebas dari semua kurungan ini. Penantiannya selama bertahun-tahun pun akhirnya datang lewat radio. Indonesia merdeka! Do’a-do’anya yang begitu panjang akhirnya terkabul. Namun yang aneh, selama penantian akan kemerdekaan negerinya Yukio tak pernah menyentuhnya. Hanya sekali tiba-tiba dia sudah ada di pelukan lelaki itu. Saat penembakan pribumi, Permata  bermimpi mengerikan sekali dan saat terbangun Yukio sudah memeluk raganya untuk menenangkan jiwanya. Ajaibnya, setelah Yukio menenangkannya mimpi-mimpi yang mengerikan itu tak pernah hadir lagi. Kini, rumah besarnya hanya dipenuhi percakapannya dengan Adjeng dan suara radio yang dinyalakan secara sembunyi- sembunyi untuk mengintai keadaan di luar. Semenjak peristiwa itu Yukio selalu diam. Bicara seperlunya, seperti tak ingin mengganggu Permata. Tak ada lagi yang perlu dirisaukan, ini adalah saat yang tepat untuk pergi. Bergabung dengan kebahagiaan di luar sana.
(Permata  berjalan mengendap-endap menuju kamar Adjeng)
Permata           : (Membuka pintu, memegang tubuh Adjeng) Psst. Psst. Kamaratih, ini saatnya kita kabur. Indonesia sudah merdeka!
Adjeng                        : (Terbangun) HA?! (langsung menutup mulut) Apakah kau yakin Koeswara?
Permata           : Tentu saja aku sangat meyakininya, Kamaratih. Aku mendengarkannya,  pemuda Indonesia telah mengumumkannya lewat radio.
Adjeng                        : Baiklah. Apakah kau sudah menyiapkan segalanya? (berdiri mengambil tas)
Permata           : (Mengangguk) Bersegaralah Kamaratih. Ayo beranjak! Aku sudah tak sabar.
Adjeng                        : Sudah, Koeswara. Ayo kita pergi!
(keduanya mengendap-endap keluar, lewat pintu dapur terus menuju ke belakang)
Adjeng                        : Ini sangat aneh, Permata . Mengapa semua penjagaan itu telah lenyap?
Permata           : Setelah negara itu menyerah. Maksudku Jepang yang menyerah kepada Sekutu kemarin. Tentu, dia pasti akan memulangkan banyak tentaranya, Adjeng. Juga mengamankan persenjataannya.
Adjeng                        : Tapi, aku rasa Yukio tidak sebodoh itu membiarkan kita kabur begi...
(tiba-tiba Yukio muncul di belakang keduanya yang sedang mengendap-endap)
Yukio              : Selamat malam, Hime. Sedang apa kamu di luar bersama dia? (menunjuk Adjeng. Segera Permata  dan Adjeng menoleh ke belakang dan mundur perlahan)
Permata           : Bukan urusanmu, Tuan Yukio.
Yukio              : Tentu saja urusan saya, Hime. Karena anda adalah nyonya rumah yang harus saya lindungi.
Permata           : Aku tak mau selamanya menjadi simpananmu, busuk!
Yukio              : Tidak bisakah bagimu untuk tidak mengumpat? Mana etikamu sebagai priyayi?
Permata           : Bangsamu telah menghapus semuanya dengan luka, Jenderal. Terima kasih.
Yukio              : (Berusaha memegang tangan Permata ) Percayalah, Hime. Di luar sana saat ini sangat tidak aman. Apabila kau tidak nyaman denganku, aku pasti akan melepaskanmu, Hime. Tapi, bukan sekarang.
Permata           : Kapan?! Kalian selalu berbohong! DAK! (menendang selangkangan Yukio) Sekarang saatnya Adjeng! Ayo segera lariiiiii!!!
Adjeng                        : (Terperangah dan segera menyusul Permata ) Tunggu aku, Permata !!!

DAR! (suara tembakan mengenai kaki Adjeng menyebabkan dia terjerembap. Permata  menoleh ke belakang dan segera berbalik arah, membantu Adjeng. Tapi, Yukio datang begitu cepat.)
Yukio              : Sudah aku peringatkan, Hime (sambil mencengkeram lengan Permata) Ini bukan saat yang tepat! Kau segera keluarlah, Keibodan! Aku tak bisa menggandeng Tomoka-ku sendirian sekarang.
(Keluarlah dua prajurit Jepang yang ikut memegangi Adjeng dan Yukio pun mengawalnya dari belakang)
Permata           : (Menoleh ke belakang dan berusaha melepaskan pegangan prajurit Akihito) Lepaskan aku, biadab! Cepat! Mengapa kau renggut semuanya dariku?! (terisak) Bunuh saja AKU! BUNUH SAJA! Tapi, selamatkan Adjeng. Dia bisa saja kehilangan kakinya.
Yukio              : Apa ini kebisaanmu, Hime? Selalu berteriak- teriak? Kau jauh berbeda dengan Tomoka-ku!
Permata           : Aku tak peduli siapa dia, biadab! Cepat lepaskan aku! (semakin memberontak agar kedua prajurit Akihito melepaskan genggamannya)
Yukio              : HIME! Kau terlampau berisik! Kita selesaikan di dalam. Keibodan, Cepat jalannya! Seret dia kalau perlu.
Permata           : (Menoleh ke belakang sekali lagi) ADJEEEEENG! (terisak)
Hari demi hari telah berlalu, mendung masih terus bergelayut di pikiran Permata. Menyelimuti malam- malam panjang yang kini semakin mengerikan. Permata  semakin membencinya. Mengapa dia harus dipertemukan oleh Yukio? Semua kenangan itu terus menghantui malamnya membuat dendamnya membara. Prasangka baik pada Tuhan kali ini benar-benar telah lenyap. Sebagai orang yang tahu segalanya, Permata  tidak tinggal diam. Penjagaan sudah tidak begitu ketat. Raganya memang tidak keluar, tapi pembicaraannya sudah melanglang buana keluar. Sekutu yang diboncengi NICA akan datang, memanfaatkan segala kesempatan yang ada. Dia pasti bisa membalaskan dendamnya. Dendam itu layaknya cinta, kawan. Dia tak akan bisa dihentikan kecuali ada hal yang benar-benar mengalihkannya.
Yukio              : Ohaiyo gozaimasu, hime. (Permata  hanya terdiam) Tidak bisakah kau menjawab salamku? (Permata  hanya menoleh) Hime, Mengapa kau begitu marah padaku? (mengacak-acak rambut)
Permata           : Kau ingin tahu? Benar-benar ingin tahu?
Yukio              : Tentu, Hime. Katakan yang sebenarnya.
Permata           : (Tersenyum sinis) Karena kau adalah penghancur segalanya, Tuan. Tidakkah anda menyadarinya?
Yukio              : Penghancur segalanya?! Kau tidak mengerti pengorbananku, Hime.
Permata           : Aku tak perlu mengetahuinya, Tuan! Karena aku sangat tidak ingin berurusan dengan anda!
Yukio              : (Menggeleng) Mengapa kau seperti ini Tomoka?
Permata           : Aku bukan Tomoka-mu, Jenderal! Aku tak kenal siapa dia! Jadi, berhentilah mengucapkan kata itu. Jangan hanyut dalam imajinasimu. Aku dan Tomoka-mu itu berbeda!
Yukio              : Iya, sudah terang semuanya. Kalian memang berbeda, Hime.
Permata           : Oleh karena itu, lepaskan aku!
Yukio              : Apakah kau benar-benar menginginkannya?
Permata           : Apakah bagimu ini belum jelas, Jenderal. Segera bebaskan aku! Aku sangat membenci ini!
Yukio              : Tidakkah ada rasa sedikitpun untukku?
Permata           : Apa maksudmu jenderal?
Yukio              : Ehem. Apakah anda benar-benar tak memiliki perasaan untukku, Hime?
Permata           : Kau tentu sudah tau jawabannya, Jenderal. Hanya orang gila yang menyukai orang yang membunuh kedua orangtuanya dan melukai sahabatnya.
Yukio              : Sekalipun kau tahu banyak hal tentangku? Kau tidak akan pernah ada perasaan itu?
Permata           : Aku benar-benar tidak tertarik denganmu, Jenderal. Maka, menjauhlah dariku!
Yukio              : Terima kasih, Hime. Sudah terang semuanya. Silahkan per....
(Tiba-tiba pasukan NICA datang, membawa senjata)
NICA 1           : Semua tangan terangkat! Jangan ada yang memegang senjata!
Permata           : Tahukah kau, Jenderal. Segala sesuatu itu ada balasannya.
Yukio              : Tentu, Hime. Aku sudah sangat menduganya. Engkau akan begini. (menoleh kepada tentara) Tapi, para tentara yang terhormat. Anda tentunya harus menyadari bahwa tidak boleh ada kekerasan di sini.
NICA 2           : Saya tahu. Maka, serahkan semua senjata anda.
(Yukio mengeluarkan semua persenjataannya. Saat tentara itu mengambil Yukio segera menendang hingga NICA 1 terjerembab di lantai. NICA 2 bersiap menembak. Tapi, Permata  segera menghalangi Yukio. Yukio segera memeluk Permata  dan menunduk)
DAR! (Yukio tertembak di perut)
Yukio              : Segala sesuatu ada balasannya, Hime. Terima kasih atas balasannya yang menyenangkan ini.
Permata           : (Menggeleng) TIDAK, JENDERAL! Segera hubungi rumah sakit! Dia tidak boleh kehilangan banyak darah (berusaha menghentikan pendarahan di perut Yukio).
Yukio              : Tidak perlu repot-repot, Hime. Jangan bermain-main di atas kata kemanusiaan.
Permata           : Cepat telepooooon! Bukankah aku sudah bilang bahwa tidak boleh ada letusan pistol! Kumohon bertahanlah, Jenderal.
Awan kabut berpilin dan semua labirin itu berujung. Ada akhir dari semuanya yang menuntun kita untuk mendapatkan prasangka baik itu kembali. Walaupun, awal dari sebuah akhir ini begitu pedih karena tidak pernah ada perasaan ini sebelumnya. Semua kepedihan akan kehilangan kemarin tak sebanding dengan kepedihan ini. Berprasangka pada orang yang salah. Cahaya itu mulai masuk ke dalam relung-relung hati Permata . Terperangkap. Tak kuasa untuk keluar. Maka, pembiasan itu pasti terjadi, penguraian warna yang indah. Entahlah apakah ini nanti akan benar-benar menjadi pelangi. Permata  terus berdo’a untuk keselamatan Jenderal yang telah melindungi nyawanya. Sekali lagi, pemburaian warna itu begitu paripurna. Seiring waktu, terburai pulalah rahasia yang selama ini ditutupi oleh kabut yang berpilin dan labirin-labirin panjang.
(Permata  terduduk menunduk dengan tangan ditangkupkan di wajahnya di depan salah satu dan Adjeng pun datang)
Adjeng                        : Apa kabar, Koeswara?
Permata           : (Mengangkat wajahnya) Adjeng? Bagaimana keadaanmu?
Adjeng                        : Aku baik-baik saja, Permata. Seperti yang kau lihat.
Permata           : Bagaimana mugkin? Kau kan..
Adjeng                        : Ssst. Sudahlah, semua bisa saja terjadi, Permata . Apakah kau baik-baik saja?
Permata           : Harusnya seperti itu kan, Kamaratih? Tapi mengapa rasanya seperti ini.
Adjeng                        : Apa yang kau rasakan, Koeswara?
Permata           : Hampa, Adjeng. Entah mengapa. Harusnya aku puas kan dengan semua kejadian ini? Harusnya aku puas melihat dia akan... mati?
Adjeng                        : Tidak seharusnya, Permata .
Permata           : Apa sesungguhnya yang terjadi, Adjeng? Mengapa ini semua seperti gerhana? Kau sudah ada di sisi terang, sedangkan aku selalu di umbranya.
Adjeng            : Kau selalu pandai di bidang IPA, kawanku. Banyak hal tentangnya, Permata . Apakah kau siap untuk mendengar semuanya?
Permata           : Tentu saja, Adjeng. Apa sebenarnya yang terjadi?
Adjeng                        : Apa hal yang paling ingin kau ketahui dari Jenderal Yukio?
Permata           : Tentu saja hal yang berkaitan denganmu, Adjeng. Bagaimana kau bisa sampai di sini dengan selamat seperti ini padahal aku meninggalkanmu? Maafkan aku. Sepertinya aku bukan sahabat yang becus.
Adjeng            : Ssssh. Siapa yang bilang? Aku malah berterima kasih karena kamu meninggalkanku dan tak kembali waktu itu.
Permata           : Memangnya kenapa seperti itu?
Adjeng            : Yukio-San benar akan semuanya. Itu adalah saat yang belum tepat membuat kita menghirup udara segar di luar.
Permata           : Bagaimana bisa, Adjeng? Apakah dia telah mencuci otakmu?
Adjeng            : Ayolah, Permata . Kamu ini priyayi, salah satu temanku yang paling banyak membaca buku. Mengapa pemikiranmu sesempit itu? Jangan ada prasangka, Taa. Ingatlah kau belum mengetahuinya kalau Jenderal Yukio lah yang menolongku.
Permata           : A..apakah itu benar? Bagaimana mungkin?
Adjeng            : Jendral Yukio memang sengaja menembakku. Tapi, aku langsung diselamatkan dan dibawa ke tempat yang aman serta langsung diberikan pertolongan medis. (menggerakkan kaki) Hingga kakiku bisa tertolong. Memang benar, Permata. Saat itu memang bukan waktu yang tepat. NICA yang selalu kau hubungi untuk menangkap Yukio adalah organisasi yang ingin menjajah kita lagi. Ckck. Tidakkah dendam itu mengaburkan pandanganmu, Koeswara?
Permata           : Aku tahu, Kamaratih. Sekarang aku sadar betapa bodohnya aku? (sambil menjambak rambut)
Adjeng            : Tidak, Permata. Masih ada kesempatan untuk memperbaiki kesalahan atas semua prasangka itu. Masih ada waktu untuk meminta maaf kepada orang yang juga telah menolong negara kita.
Permata           : Menolong negara kita? Apa maksudmu?
Adjeng            : Jenderal Yukio merupakan salah satu Jenderal Jepang yang menolong orang Indonesia untuk merdeka, Permata . Dokuritsu Junbi Cosakai, organisasi bentukan jepang yang sebenarnya digunakan untuk propaganda, tapi malah berbalik menjadi alat untuk mencapai kemerdekaan. Nah, sahabatku Permata Koeswara. Jenderal Yukio adalah salah satu orang yang ada di balik semua usaha perjuangan kemerdekaan melalui organisasi itu.
Permata           : Be..Benarkah semua itu, Adjeng?
Adjeng                        : Apakah aku kelihatan seperti berdusta?
Permata           : (Menggeleng pelan) Tidak pernah ada kata terlambat kan Adjeng?
Adjeng            : (mengangguk) Temuilah dia. Aku yakin dia sudah siuman. Karena barusan saja dokter dan suster yang keluar dari kamarnya tersenyum bahagia. Aku yakin Yukio-San baik-baik saja.
Permata           : Terima kasih, Adjeng (beranjak berdiri)
Adjeng                        : (beranjak berdiri) Buat?
Permata           : Semuanya (memeluk Adjeng dan berlari menuju kamar)
Pelangi itu benar-benar terbentuk di hati Permata , kawan. Belum pernah sebelumnya dia merasa sebahagia ini, sehidup ini. Semua kepedihan itu seakan sirna berganti dengan senyum merekah di bibirnya yang kini tak henti mengucap syukur. Bagaimana tidak? Akhirnya sekarang dia mengerti artinya perasaan ‘menemukan’. Bukan perasaan kehilangan yang selalu menghantuinya. Sepertinya juga ada perasaan lain, yang seperti embun pagi menyegarkan relung-relung hati setiap hari.
Permata           : Konichiwa, Yukio-San.
Yukio              : Konichiwa, Hime. Ehem. (membenarkan posisi duduk) Aku suka melihatmu ceria seperti ini. Apa yang membuatmu seperti ini, Hime?
Permata           : Apakah kau menyukainya, Jenderal.
Yukio              : Tentu saja. Kau luar biasa cantik, Hime.
Permata           : Baiklah, cukup untuk memujinya, Jenderal. Apakah tawaran itu masih berlaku?
Yukio              : Tawaran apa, Hime?
Permata           : Tawaran yang dulu itu, Jenderal.
Yukio              : Yang mana, Hime? Pada saat apa itu?
Permata           : Saat kita pertama kali bertemu, Jenderal.
Yukio              : Oh, Hime. Aku benar-benar lupa. Bisakah kau mengatakannya tanpa berbelit-belit?
Permata           : Ehem. Tawaran untuk menikah denganmu?
Yukio              : Maksud anda apa, Permata -San?
Permata           : Bukankah kau pernah mengutarakannya, Yukio-San?
Yukio              : Ehem. Sepertinya aku mulai mengingatnya, Hime. Apakah kau akan mengatakan “Iya”?
Permata           : Apakah kau menginginkannya? Jika kau menginginkannya aku akan berkata “Iya”, Jenderal.
Yukio              : Kau berubah, Hime. Ini bukan dirimu. Ada apa denganmu?
Permata           : Aku bersedia menjadi apapun yang kau minta, Jenderal. (berdesis dan menggigit bibir)
Yukio              : Tidak, Hime. Kau belum menjawab pertanyaanku. Ada apa denganmu, Hime?
Permata           : Apakah itu tidak cukup untuk menebus semua kesalahanku, Jenderal?
Yukio              : Ada apa ini, Hime? Aku semakin tak mengerti.
Permata           : Maafkan aku, Jenderal (berkaca-kaca). Harusnya aku tak boleh sekejam itu kepada orang yang sangat baik kepadaku, kepada yang di sekitarku pula. Aku memang tak tahu balas budi, karena telah membalas semua perlakuan baikmu dengan air tuba. Maka, izinkan aku untuk membalasnya, Jenderal.
Yukio              : Tidak (menggeleng). Kau tidak perlu melakukannya, Hime. Karena aku benar-benar menginginkan itu. Aku bahagia ketika melakukannya.
Permata           : Apakah tawaran itu masih ada, Jenderal?
Yukio              : Sebaiknya kau simpan kata “Iya” itu, Hime.
Permata           : Maafkan aku, Jenderal. Apakah kesalahanku sefatal itu? Hingga kau tak ingin memaafkannya. Kau menolakku, Jenderal? (mulai menangis)
Yukio              : Tidak, bukan seperti itu, Hime. Kau sudah aku anggap seperti adikku sendiri, Hime. Karena sampai kapanpun Tomoka-ku tak akan terganti. Aku hanya ingin kau menyimpan kata “Iya” untuk menikah dengannya, Hime. (sambil menunjuk ke arah pintu)
Permata           : Jo..Josh? (memandang tak percaya)
Josh                 : Good afternoon my lady.
Permata           : Sejak kapan kau disini, Josh? Bagaimana bisa?
Josh                 : Sejak tadi, My Lady. Aku sudah berjanji untuk menjadi pelindungmu, bukan? Janji padang bulan, My Lady.
Permata           : Maafkan aku, Josh (melirik ke arah Yukio)
Yukio              : Dokter, maukah kau menikahi orang yang paling berharga di sisiku ini?
Josh                 : Tentu, Mr. Sugikomoto. Tapi, apakah bidadari di samping anda ini mau menerima saya, setelah mengajukan lamarannya kepada anda.
Yukio              : Dia akan sangat menerima anda Mr. Dicky. Karena anda jauh lebih baik daripada saya. Bukankah seperti itu, Permata –San?
Permata           : (Menunduk) Te...Tentu, Yukio-San. (sambil melirik ke arah Yukio)
Yukio              : Sudahlah kalian silahkan melepas rindu di luar. Biarkan saya istirahat di sini (menurunkan bantal dan menarik selimut) Anda dokter yang baik, Mr. Dicky. Maka, jagalah baik-baik orang yang paling berharga dalam hidupku. Jagalah reinkarnasi Tomoka-ku, Sir. Jangan sampai dia bersedih atau tersakiti.
Josh                 : Absolutely, Yukio-San. Terima kasih atas kepercayaannya.
(Yukio hanya mengangguk)
Permata           : Cukuplah berkorban, Yukio. Ini tak adil untukmu. (mendesis kemudian melangkah mendekati Josh. Josh melingkarkan tangannya ke pinggang Permata)
Josh                 : Konnichiwa, Yukio-San.
Yukio              : Konnichiwa. (tersenyum dan mereka berdua pergi. Mata Yukio berkaca-kaca) Berbahagialah, Hime. Aku sangat mengharapkannya. (tersenyum)
Sinar matahari itu masih sama seperti lima belas tahun yang lalu. Rindu itu sudah membeku menjadi kristal es yang indah di sudut hati. Prasangka baik pada Tuhan sudah meliputi hati sehingga perasaan hangat yang menentramkan itu selalu ada. Seusai perang itu, perang yang menelan korban segala sesuatu. Walaupun negeri yang indah itu belum stabil betul. Tapi, Yukio Sugikomoto tetap saja ngotot agar bisa berkunjung ke negeri indah itu untuk mengunjungi seseorang yang telah membuat kristal es rindu itu di sudut hatinya.
(Yukio duduk di taman. Permata  dari jauh berjalan pelan)
Permata           : Ohaiyo gozaimasu, Yukio-San.
Yukio              : Permata -san? Mana Mr. Dicky?
Permata           : Hari ini dia belum bisa menemaniku, Mr. Sugikomoto.
Yukio              : (Tersenyum) Kau tetap sama, Mrs. Duke. Silahkan duduk.
Permata           : (tersenyum)Terima kasih. Bagaimana kabar Tomoka, Mr. Sugikomoto? (duduk)
Yukio              : Dia selalu baik, Mr. Dicky. Sejak dahulu dia selalu baik.
Permata           : Sesungguhnya siapa sih dia, Yukio-San?
Yukio              : Kau belum mengerti Mrs. Dicky? (Permata  menggeleng) Dia adalah tunanganku yang meninggal satu tahun sebelum aku pergi ke sini dulu.
Permata           : Ehm.. Jadi kamu tertarik padaku bukan karena apa yang ada pada diriku? Melainkan kau hanya tertarik dengan kembarannya Tomoka?
Yukio              : Aku tidak munafik, Hime. Hal itulah pada awalnya. Tapi, lambat laun aku mengerti bahwa kalian adalah dua pribadi yang sangat berbeda.
Permata           : Lalu kenapa kau tidak melepaskanku, Tuan?
Yukio              : Maafkan aku, Hime. Aku harap perkataan setelah ini tidak akan mengganggu hubunganmu dengan Mr. Dicky. Karena aku sangat akan kecewa ketika kalian berpisah. (menghela napas panjang) Perasaan itu ada, Hime dan aku tak bisa mendustainya.
Permata           : Lalu mengapa kau menolakku, Yukio-San?
Yukio              : Karena kau akan jauh lebih baik dengan Mr. Dicky, Hime. Dia orang yang baik, jangan sampai terluka. Kau harus ingat janji padang bulanmu, nona. Seperti aku ingat janji matahari terbitku padanya.
Permata           : Janji matahari terbit?
Yukio              : Iya. Josh Dicky merupakan dokter yang menolongku dulu waktu perang. Dia bilang tak peduli walau aku musuh, dia tetap menyelamatkanku karena aku tidak menyerang. Dia berhati mulia, Hime. Saat matahari terbit, waktunya aku untuk pergi maka, aku janjikan padanya sesuatu yang tak akan pernah aku tolak. Dia tak pernah memintanya, Hime. Hingga.. (menerawang jauh)
Permata           : Hingga apa, Yukio-San?
Yukio              : Hingga aku tertembak oleh NICA dan anda menungguku di depan, Hime. Saat aku tersadar air matanya lah yang pertama kali kulihat. Dia sangat mencintai anda, Hime. Sudah selayaknya dia mendapatkan janji matahari terbit itu.
Permata           : Cinta memang terkadang rumit, Tuan. Lalu, sebenarnya ada satu hal yang ingin aku tanyakan, Tuan.
Yukio              : Apa itu, Hime? Apakah itu berhubungan dengan prajurit PETA yang kutembak?
Permata           : Benar sekali, Tuan. Mengapa anda melakukan hal itu?
Yukio              : Itu adalah kesepakatan, Hime. Dia telah berkhianat, membocorkan rahasia besar kami ke pemerintah jepang. Dia menjual informasi dengan topeng kebaikan mengasuh anak yatim.
Permata           : Astaghfirullah.. Separah itukah, Tuan? (menatap lurus ke depan) Hem.. Kini aku merasa dia pantas mendapatkannya.
(Yukio mendekatkan wajahnya ke Permata . Permata  menoleh langsung menatap wajah Yukio dan mukanya memerah)
Yukio              : Saya rasa, saya tahu mengapa anda datang sendiri, Hime.
Permata           : Apa maksudnya, Tuan? Jangan menatapku seperti itu.
Yukio              : (Melepaskan pandangannya dan menatap ke depan) Apakah kau benar- benar pernah mencintaiku, Hime?
Permata           : Mungkin, ini adalah kesalahan, Tuan. Tapi, saya rasa saya bahagia bisa memilikinya hingga hari ini.
Yukio              : Anda bahagia kan, Hime? (menoleh kepada Permata )
Permata           : Lebih dari itu, Tuan. Apakah Tuan juga? (menoleh kepada Yukio)
Yukio              : Tentu, Hime. Prasangka baik pada Tuhan telah terpatri dalam hati. Aku sudah sepatutnya setia pada Tomoka, Hime. Dengan....
Permata           : Dengan?
Yukio              : Dengan selalu mempersiapkan hatiku untuknya dan membiarkan sudut kecil hatiku terisi oleh anda, Hime.
Permata           : Terima kasih, Tuan. (tersenyum)
Yukio              : Untuk apa, Hime?
Permata           : Untuk segalanya.... (Saling menatap dan tertawa bersama)
Semuanya telah terjadi, walau saling mencinta mereka tahu batasan itu. Cinta mereka hanya boleh diletakkan di sudut hati dibiarkan membeku bercampur dengan rindu. Kenanganlah yang akan bisa melelehkannya. Tapi, mereka justru memilih untuk senantiasa berprasangka baik pada Tuhan. Membiarkan takdir-Nya yang indah memberikan jalan terbaik bagi kehidupan masing-masing tanpa melukai hati mereka yang berjiwa lembut.
TAMAT
Catatan          :
Gusti, Pangapuntenmu ingkang agung           : Tuhan, permohonan maafmu yang mulia
Sare                                                                 : Tidur
unggah-ungguh                                               : Tata krama
Gusti, Kula nyuwun pangapura                      : Tuhan, aku mohon ampun
Danke                                                              : Terima kasih.
Hime                                                               : Sayang, Cinta (Panggilan Sayang)
Konnichiwa                                                     : Salam sapaan
Ohaiyo gozaimasu                                           : Selamat Pagi
Arigatou Gozaimasu                                       : Terima Kasih


Unknown

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Instagram